GRAMEDIA: YOU HAD ME AT HELLO

download-buku-gramedia-gratis

Susan… Susan… Susan… besok gede, mau jadi apa?

Aku kepingin pinter, biar jadi dokter

Kalau… kalau… benar… jadi dokter, kamu mau apa?

Mau suntik orang lewat, njus… njus… njus…

 

Anak-anak kelahiran tahun 90-an pasti akrab betul dengan lagu yang berjudul Susan Punya Cita-cita yang dinyanyikan oleh Kak Ria Enes ft. Susan itu. Itu adalah lagu kesukaanku waktu kecil. Aku punya kasetnya yang diputar di tape setiap pagi, lengkap dengan boneka Susan berambut pirang jerami dengan kuncir dua, dress pendek bunga-bunga berlengan panjang, serta sepatunya. Setiap pagi aku menggendong boneka itu di tanganku, memutar tape, dan berkaraoke menyanyikan bagian Kak Ria Enes dan Susan sekaligus sambil menonton ibuku bersiap-siap untuk kerja.

Dulu, aku tidak pernah tahu kalau kesukaanku terhadap lagu itu adalah awal mula dari keseluruhan ceritaku saat ini. Tapi saat ini, menengok lagi ke belakang, aku tersenyum mengingat momen-momen memori yang kukumpulkan, yang membentuk segala hal menjadi diriku saat ini.

“Ayu, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau jadi dokter.” Begitu jawabku dengan polos ke
tika ditanya apa cita-citaku dahulu menurut kedua orangtuaku.

 “Kalau mau jadi dokter harus rajin membaca, lho.” Begitu kata orang-orang yang menanggapi jawabanku saat mereka menanyakan padaku apa cita-citaku.

Aku mengangguk dan berpikir begini, ‘itu gampang. Aku rajin baca, kok,’ yang bukan merupakan sebuah kebohongan. Karena sejak kecil aku sangat menyukai buku cerita.

Aku tidak ingat buku cerita pertamaku, tetapi aku ingat punya tiga buku dongeng anak-anak tipis berilustrasi yang berjudul Cinderella, Pinokio, dan Hansel & Gretel yang kubaca berulang-ulang begitu aku bisa membaca, sampai aku hapal ceritanya. Kadang-kadang, aku bahkan meminta tetanggaku yang berusia satu tahun lebih tua dariku dan pengasuhku untuk membacakannya untukku, bukan karena aku tak bisa membaca sendiri, tapi karena aku ingin mendengar mereka membacakan cerita untukku. Sampai sekarang, aku masih ingat dimana buku itu dibeli karena Mama mengatakan padaku bahwa buku-buku itu harganya mahal dan beliau tak akan lagi mengajakku untuk membeli buku-buku seperti di Toko Buku Gramedia jika aku merusaknya.

Itulah hari dimana aku berkenalan dengan Toko Buku Gramedia secara resmi, walaupun aku belum bertemu muka secara langsung.

***

Kalau ditanya soal kapan pertemuan pertama resmiku dengan Toko Buku Gramedia, jujur, aku tidak ingat. Pastinya itu sudah terjadi lama sekali.

Yang aku ingat adalah esensi dari pertemuan itu. Pertemuan yang pertama itu pasti berkesan sekali sehingga membangun fondasi awalku untuk definisi dari kata ‘jalan-jalan’.

Aku suka jalan-jalan. Yah, anak kecil mana yang tidak, kan?

Tetapi sementara teman-temanku sangat suka jalan-jalan di mall, untuk bermain di tempat bermain yang biasanya disediakan, atau menemani Mamanya berbelanja, definisi ‘jalan-jalan’-ku berbeda.

‘Jalan-jalan,’ bagiku artinya adalah pergi ke Toko Buku Gramedia.

Kalau bagi anak-anak seumurku toko mainan adalah gambaran dari surga, aku punya gambaran yang sedikit berbeda.

Gambaran surga kecilku waktu itu adalah Toko Buku Gramedia Matraman, pusatnya Toko Buku Gramedia, dengan koleksi buku terbanyak yang pernah kulihat.

Karena kedua orangtuaku bekerja, biasanya aku baru bisa pergi jalan-jalan di hari libur mereka, Sabtu atau Minggu. Saat itulah, jika sampai sore mereka tidak menunjukkan gelagat bahwa kami akan pergi, biasanya aku akan bertanya, “hari ini kita nggak jalan-jalan?”

Lalu, biasanya Mama akan bertanya, “mau jalan-jalan kemana?”

Aku menjawab, “Ke Gramedia,” sambil membayangkan tumpukan buku di Gramedia Padjajaran (yang waktu itu paling dekat dengan rumahku) dengan sampul berwarna-warni yang memenuhi setiap sisi ruangan, yang sudah terlihat dari luar bahkan sebelum aku memasuki pintu masuk toko.

Seperti panitia penyambut tamu yang tersenyum mengucapkan selamat datang, pemandangan tersebut mencuri hatiku dan mengubah suasana hatiku dengan seketika.

Sampai detik ini, The Gramedia effect masih menimbulkan perasaan gembira yang sama seperti ketika aku masih kecil dulu. Setiap kali aku membutuhkan sedikit mood booster, aku akan mencari Toko Buku Gramedia terdekat dan menenggelamkan diri di antara tumpukan buku bersampul warna-warni koleksinya.

***

Cinta pertamaku adalah buku dan aku mencintai buku. Selamanya.

Karena sewaktu kecil dulu uang sakuku tidak cukup untuk membeli buku, aku hanya dapat memuaskan kecintaanku pada buku melalui perpustakaan sekolah dan menunggu momen ‘jalan-jalanku’. Biasanya jika aku menyukai sebuah buku cerita di perpustakaan sekolah, aku akan membelinya ketika ‘jalan-jalan’ ke Toko Buku Gramedia, dimana Ayah membebaskanku untuk membeli buku apapun yang kusukai dengan syarat tidak melebihi batas nominal rupiah yang beliau tetapkan dan disetujui beliau untuk dibeli. Ini adalah cara beliau untuk mengontrol agar buku-buku yang kubaca sesuai dengan usiaku, mengingat umurku yang masih anak-anak dan mengajariku untuk tidak boros dan bijaksana dalam memilih keinginanku.

Berhubung banyak sekali judul buku yang ingin kubeli, dan tidak semuanya memenuhi persyaratan yang diperbolehkan Ayahku, biasanya aku memilah-milah buku dengan cara mengambil semua buku yang kuinginkan lalu menyortir harganya terlebih dahulu. Setelah harga-harganya memenuhi persyaratan Ayahku, aku membaca buku sample berjudul sama yang disediakan tanpa segel untuk membaca garis besar ceritanya. Setelah memutuskan bahwa cerita tersebut cocok untuk usiaku, aku akan membawanya untuk ditunjukkan kepada Ayah supaya beliau bisa menyetujui untuk membeli buku tersebut atau tidak. Ayah hampir selalu menyetujui buku yang kupilih untuk kubeli.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah hal kecil, cara memilih buku sesuai budget yang telah disediakan. Tetapi sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, itu adalah cara Ayah mengajarkan kebijaksanaan dan skala prioritas padaku.

Pelajaran itu terjadi hampir setiap minggu pada momen ‘jalan-jalan’ selama masa kanak-kanakku sampai ketika aku memasuki Sekolah Menengah Pertama, ketika aku tidak lagi membeli buku-buku yang kusukai dengan budget yang dibatasi dan butuh persetujuan.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama, aku melatih sistem baru untuk membeli buku yang kuinginkan dengan hasil tabungan yang kusisihkan dari uang sakuku setiap hari. Buku-buku yang kubeli pada saat Sekolah Menengah Pertama kebanyakan kubeli dengan uang tabunganku sendiri, kecuali pada saat-saat tertentu ketika orangtuaku membayariku.

Toko Buku Gramedia sudah membantuku untuk menyediakan sarana dan menjadi tempat latihan untuk beberapa pelajaran hidup dasarku.

***

Sekolah Menengah Pertama adalah pertama kalinya aku berhadapan dengan masalah-masalah remaja, seperti peer pressure dan tingkat kestabilan hormon yang mengecewakan.

Tidak pernah ada buku panduan tentang bagaimana menghadapi masa-masa remaja, misalnya seperti cara untuk menyikapi geng populer yang menjadikan geng tidak populermu sasaran untuk dipermalukan secara verbal, bagaimana cara membuat kakak kelas yang kau sukai melirikmu, bagaimana cara menghadapi seorang teman yang menusukmu dari belakang, atau betapa segala hal terlihat jauh lebih menarik tepat ketika usiamu menginjak tiga belas (Ngomong-ngomong soal buku panduan menjadi remaja, seseorang benar-benar harus mulai membuatnya).

Aku berpegangan pada tali tipis yang kusebut majalah remaja, sebagai buku panduanku dan buku harian, yang saat ini kusebut sebagai jurnal (supaya tidak terkesan kekanak-kanakan) untuk meluapkan seluruh emosiku. Karena, yah … tidak ada orang yang siap sedia setiap waktu untuk mendengarkan keluh kesahku padahal kebanyakan remaja hanya butuh didengarkan, bahkan jika keluhannya remeh saja. Tetapi buku harian setidaknya dapat mengisi fungsi tersebut dengan baik.

Lucunya, pertama kali aku berkenalan dengan buku harian adalah di perpustakaan, melalui sebuah novel remaja berjudul Dear Diary dengan peringatan untuk tidak membaca buku hariannya pada halaman pertama sebelum cerita dimulai. Tokoh utamanya adalah seorang remaja perempuan, yang mengisahkan kehidupannya dalam bentuk buku harian, ia menumpahkan segala rasa sedih, bahagia, cemas, dan kemarahannya disana, sekedar untunk menjadi waras dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah aku membeli buku harian pertamaku di Gramedia Padjajaran.

Warnanya pink, dengan wajah berbentuk beruang sebagai sampulnya dan magnet penutup di sisi kanan. Ukurannya kecil, hanya sebesar kertas notes berbentuk persegi seperti yang suka diletakkan di sisi telepon rumah. Yang spesial dari buku ini adalah kertas-kertas halamannya yang memiliki ilustrasi berbeda-beda tanpa berulang dan sampul bukunya yang terbuat dari busa keras.

Harganya empat puluh lima ribu. Bukan hanya aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, harga itu jauh melebihi batas pembelian yang disyaratkan Ayahku. Aku hanya menghela napas. Tuhan tahu aku menginginkannya, karena itu aku mencoba untuk bernegosiasi dengan alasan bahwa aku membutuhkannya, bukan sekedar menginginkannya. Tentu saja alasan itu tidak diterima, mengingat aku sudah punya banyak sekali buku diary (yang hanya berisikan sebagai kumpulan biodata teman-temanku, atau coret-coretan) jadi aku harus memohon dan merengek, seperti anak kecil.

Ironis bahwa fakta percobaan pertamaku untuk bersikap seperti orang dewasa dengan bersikap seolah tidak memiliki ketidakstabilan hormon (yang kuharapkan kelak akan mendapat bantuan dari buku harian itu), kumulai dengan merengek seperti anak manja.

Setidaknya itu berhasil dan setelah yang pertama itu, aku punya lima buku harian / jurnal lain. Sampai saat ini. Sekalipun aku tak lagi menulisinya setiap hari pada pukul sembilan malam sebelum tidur, secara diam-diam.

Jurnal, majalah, dan buku-buku (novel) menjaga pikiranku tetap teratur, menyelamatkan masa-masa tersulitku dari ketidakwarasan permanen, dan menjaga emosiku tetap tampak stabil.

Tebak siapa yang membantuku menyediakan sarana-sarana itu?

vFC2D4uJ

Tidak lain dan tidak bukan, Toko Buku Gramedia terdekat yang dapat kucapai.

***

Aku punya masalah yang sedikit berbeda pada saat SMA, mengingat hormonku sudah jauh lebih stabil dan peer pressure merupakan masalah yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kemana aku akan melanjutkan kuliah nanti.

Aku sudah jauh lebih berkembang saat itu, setelah selama enam belas tahun belakangan aku hanya hidup dan berkegiatan pada tingkat kecamatan dimana rumahku terletak, kemudian, aku bersekolah di sekolah negeri terbaik se-Kota Bogor / SMA peringkat dua terbaik se-Jawa Barat. Bagiku ini adalah sebuah lompatan istimewa, mengingat pada tahun 2005 itu, hanya ada satu anak dari sekolahku yang bersekolah disana melalui jalur seleksi nilai ujian akhir nasional (tidak ada tes ujian masuk SMA negeri pada tahun itu), yaitu aku.

Jadi … yah, saat itu aku adalah kasus luar biasa.

Tidak bertahan lama. Jujur saja, aku kewalahan. Mengingat aku bukanlah satu-satunya anak luar biasa yang bersekolah di sana. Semua orang bersaing untuk menjadi yang terbaik, semuanya bersaing untuk memperoleh peluang terbaik untuk melanjutkan kuliah di tempat terbaik.

Bukan berarti aku lupa caranya bersenang-senang.

Aku masih memilih buku, sebagai sarana pilihan untukku mengisi waktu luang—yang sangat sedikit, mengingat aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR dan badminton di Hari Minggu, juga dua sesi les Bahasa Inggris yang dijadikan satu pada hari Sabtu dan les untuk persiapan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi tiga kali seminggu—tapi, aku bahkan masih dapat bersenang-senang saat mengerjakan tugas atau di sela-sela waktu luangku yang terbatas.

Misalnya, saat mendapatkan tugas untuk membuat resensi buku, aku langsung meluncur ke Gramedia Botani Square dan berkeliaran kebingungan di section novel sampai salah seorang Mbak pramuniaga Gramedia mendekatiku dan menanyakan buku apa yang sedang kucari.

Aku mengatakan padanya bahwa aku mencari sebuah novel untuk kuresensi sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak ingin novel yang tebal, karena aku tidak mampu membaca semalaman, sementara deadline pengumpulan tugas sudah dekat. Novel itu sebaiknya juga ringan, mudah dimengerti, ceritanya dekat dengan kehidupan remaja, dan harganya tidak mahal.

Mbak pramuniaga Gramedia itu tersenyum ramah dan membawaku ke tumpukan Novel Bestseller Remaja dan menyodoriku beberapa judul novel sambil menjelaskan garis besar ceritanya padaku, sehingga aku tidak perlu membaca sinopsis di bagian belakang buku. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan menungguku memilah-milah sampai aku memutuskan novel mana yang ingin kubeli.

Itulah momen mengasyikkan yang kulakukan selama berburu buku untuk tugas Bahasa Indonesiaku.

Bukan cuma itu saja, saat menunggu dijemput orangtuaku setelah pulang les Bahasa Inggris di salah satu lembaga di Pakuan, aku punya sebuah tempat favorit untuk menunggu. Alih-alih bengong duduk sendirian di kursi tunggu di lobby lembaga les, aku memilih untuk berjalan kaki dan menunggu di Gramedia Padjajaran. Seringnya sih aku tidak membeli buku, hanya melihat-lihat buku terbitan baru atau membunuh waktu menunggu dengan membaca buku sample yang segelnya telah dibuka sampai orangtuaku datang.

Ngomong-ngomong soal buku, aku ingat bahwa suatu kali, aku membeli novel terjemahan yang terbitannya paling ditunggu sedunia, Harry Potter 7: Harry Potter and The Deathly Hallows, buku pamungkas dari salah satu buku terbaik sepanjang masa, Harry Potter. Aku ingat bahwa waktu itu dibuka pre-order pemesanan buku cetakan pertama, tetapi aku tidak mengikutinya, jadinya aku baru membeli buku itu setelah resmi beredar di toko-toko buku. Karena kesibukanku selama masa SMA, adikku lah yang lebih dulu membaca buku ini, meskipun aku yang membelinya. Pada hari ketiga setelah ia mulai membacanya, ia mengatakan padaku bahwa buku tersebut cacat. Ada beberapa halaman yang kosong sama sekali, kira-kira ada lebih dari lima halaman! Untungnya aku punya kebiasaan untuk tidak membuang struk pembelian, sehingga bergitu sempat, kami langsung membawa kembali buku tersebut ke Toko Buku Gramedia Padjajaran tempatku membelinya untuk ditukar. Mbak pramuniaga kasir yang kami tanyai melayani kami dengan efisien dan ramah, ia meminta kami menunjukkan bagian yang cacat dan bukti struk pembelian, kemudian meminta temannya mengambilkan buku yang baru untuk kami. Di depan kami, plastik segel yang masih membungkus buku itu disobek dan halaman-halaman buku diperiksa dengan cepat, terutama pada halaman yang cacat, kemudian memberikan buku tersebut kepada kami dengan pemberitahuan jika kami menemukan kecacatan lagi, kami diperbolehkan untuk menukar buku di Toko Buku Gramedia tempat kami membelinya dengan membawa serta buku yang acat tersebut, disertai bukti struk pembelian maksimal setelah satu minggu sejak tanggal pembelian. Untunglah, kali ini tidak ada kecacatan pada buku yang telah ditukar tersebut!

Sebenarnya masih banyak sekali momen seru yang terjadi selama momen SMA ini, misalnya saat aku harus membeli buku tertentu untuk disumbangkan ke Perpustakaan, Gramedia selalu menjadi toko buku pertama yang kusambangi, belum lagi di hari istimewa beberapa teman, saat aku kebingungan untuk menghadiahi mereka sesuatu, aku pasti berakhir di bagian stationary Gramedia dengan desain stationary dan pernak-perniknya yang variatif dan berwarna-warni. Satu-satunya hal yang kusayangkan dari departemen stationary ini adalah, harga barangnya yang terkadang terlalu mahal, sangat tidak cocok untuk kantung remaja sepertiku.

Pada akhir masa SMA, kuakui, aku sangat sibuk dengan segala persiapan untuk kuliah, tetapi tidak berarti aku menghentikan kunjunganku ke Gramedia. Semua buku-buku latihan soal yang kubutuhkan tersedia di toko buku ini, karena itu beberapa kali aku datang, baik untuk membeli atau sekedar melihat-lihat. Untuk sedikit hiburan aku juga selalu menyambangi bagian novel untuk sekedar melihat-lihat judul terbitan baru atau sekedar menikmati ledakan warna cover-cover novel.

1826838511_20110519101118_gramedia_2

Pada akhir masa SMA, saat aku benar-benar tertekan dengan semua hal tentang ujian akhir nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, aku menemukan pelepasan stress setiap kali aku berada diantara tumpukan buku-buku yang berwarna-warni, dengan musik instrumental lembut yang memanjakan indera pendengaranku. Terkadang, aku hanya butuh waktu sebentar untuk berjalan diantara lorong-lorong pajangan buku untuk menjernihkan pikiranku, di saat yang lain, aku butuh waktu agak lama dan harus membawa pulang sebuah buku sebagai teman.

Tidak pernah ada tempat lain yang begitu menenangkan bagiku, kecuali berada di dalam toko buku.

***

Pada tahun 2008, aku resmi diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Satu langkah lebih dekat untuk mencapai cita-cita masa kecilku.

Kalau sebelumnya kupikir tidak ada yang lebih berat dibandingkan masa SMA, bahwa kuliah akan lebih mudah karena apa yang dipelajari sudah mulai menjurus kepada kekehususan tertentu, ternyata aku salah besar.

Hari-hari kuliah smester awalku kulalui dengan jatuh-bangun, pergi pagi pulang petang sudah bukanlah hal yang mengejutkan, padahal aku tinggal di kost dekat kampus dan tinggal berjalan kaki lima belas menit setiap kali pergi ke kampus. Tetapi aku selalu terlalu lelah saat pulang. Sementara mahasiswa-mahasiswa FK yang terbiasa dengan tampang kucel, aku melihat mahasiswa jurusan lain yang berdandan dan menggangap kampus sebagai semacam catwalk, area modeling. Kau tidak bisa melakukan hal semacam itu saat menjadi mahasiswa FK.

Kalau sebelumnya, aku bisa secara rutin mengunjungi Toko Buku Gramedia setidaknya dua kali dalam sebulan, pada masa-masa kuliah ini, frekuensi kunjunganku jauh berkurang. Walaupun setiap kali ada kesempatan, aku pasti mengunjungi Gramedia, walaupun hanya untuk sekedar melihat-lihat.

Kalau biasanya aku adalah tipe orang yang tidak bisa keluar dari Toko Buku tanpa membawa pulang kantung plastik berisi buku, kala itu adalah masa-masa dimana aku tidak lagi selalu membeli buku. Walaupun aku masih dikenal sebagai: ‘kalau Ayu menghilang di mall, pasti ada di Toko Buku’ baik oleh keluarga maupun teman-temanku. Yah, masalahnya textbook kedokteran itu harganya mahal-mahal sekali, budget untuk membeli novelku jauh berkurang.

Tidak berarti aku tidak mengunjungi Gramedia sama sekali, lho, aku masih mengunjungi Gramedia untuk sekedar membeli majalah bulanan, karena aku sudah tergila-gila pada majalah sejak kecil! Aku bahkan pernah membeli dua judul majalah yang berbeda pada waktu yang sama karena bonus-nya. Siapa sih yang tidak suka gratisan?

Tentang gratisan ini, pada suatu waktu tertentu, Gramedia mengeluarkan kartu member yang dinamai Kompas Gramedia Value Card, dimana salah satu keuntungan yang didapat adalah diskon 10% sepanjang tahun khusus untuk pembelian buku-buku berlogo penerbit Gramedia dan gratis voucher Gramedia setelah mengumpulkan poin pembelanjaan berjumlah tertentu. Asyik banget! Tentu aja aku langsung mendaftar sebagai member. Waktu itu aku mendaftarkan diri di Toko Buku Gramedia Mall Taman Anggrek. Sejak saat itu, sampai detik ini aku masih terdaftar sebagai member dan kabar baiknya, promo yang kusebutkan di atas masih berlaku! Ayo, buruan daftar!

Kebetulan Gramedia juga bekerja sama dengan sebuah provider operator telepon selular yang kugunakan, dimana seluruh pelanggan provider tersebut dapat menukarkan poin penggunaan sejumlah tertentu dengan free voucher Gramedia senilai lima puluh ribu rupiah! Lumayan banget, kan? Aku bahkan sudah punya lima buku yang kubeli dengan memanfaatkan keuntungan ini.

Promosi Gramedia untuk meningkatkan minat baca di Indonesia benar-benar patut banget diacungi jempol, selain rajin mengikuti pameran buku tahunan, seperti Indonesia Book Fair, Toko Buku Gramedia juga sering mengadakan Pesta Buku atau Gramedia Fair di toko-toko bukunya. Tak terhitung berapa kali sudah aku mampir ke bazaar buku Gramedia. Soalnya kapan lagi bisa mendapatkan buku-buku bagus dengan harga diskon, bahkan murah meriah?

Terbukti bahwa sekalipun sudah menjadi mahasiswa FK, aku masih gadis kecil pecinta buku yang sama, yang suka menghilang di antara tumpukan buku. Hari-hariku menjadi orang dewasa tidak akan jauh lebih mudah dibandingkan ketika dulu aku masih kecil, tetapi setidaknya aku selalu tahu kemana aku harus pergi setiap kali aku membutuhkan sedikit kebahagiaan.

Masa-masa menjalani pendidikan di Rumah Sakit sebagai koas, adalah masa dimana aku suka menyelundupkan novel di dalam tasku. Pada waktu ini aku sudah kehilangan kemewahan untuk membaca buku pada akhir minggu secara teratur dikarenakan tugas jaga yang tidak memiliki pola khusus. Bagiku saat itu, itu adalah sekilas kehidupan yang akan kujalani sepanjang hidupku kelak, ketika semua kesenangan sederhana seperti tidur, mandi, makan dan membaca novel dengan tenang sepanjang hari pada akhir minggu adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Pola hidupku berubah menjadi, tidur ketika bisa, mandi kalau senggang, makan ketika sempat (kapanpun itu, sediakan cemilan di dalam kantung snelli, terutama cokelat), dan membaca novel untuk menghabiskan waktu menunggu (jika tidak ada tugas dan tidak ada visite dokter).

Aku masih gadis kecil yang sama, yang sangat suka membaca, karena ingin menjadi dokter. Kecuali fakta bahwa sejak SMA, aku resmi menjadi penderita insomnia.

Tetapi ada sebuah fakta yang tidak berubah, aku masih memandang Toko Buku Gramedia dengan cara yang sama seperti ketika aku masih kecil dulu.

Surga kecilku.

Selalu menyapaku dengan ramah pada detik pertama aku melihatnya, mencuri hatiku dalam kedipan mata.

Bulan depan, tepat pada tanggal 12 November 2015, aku akan resmi dilantik dan mengambil sumpah sebagai seorang dokter, pada akhirnya memenuhi cita-citaku sewaktu kecil.

Gramedia telah menjadi bagian dari perjalananku selama ini.

Seperti inilah, Gramedia di mataku.[]

Salam Sayang Selalu,

dr. Ayu Windyaningrum


Note:

Facebook: https://www.facebook.com/ayu.windyaningrum

Twitter: https://twitter.com/Ayundyawibowo

Instagram: @ayuwindyaningrum

LINE ID: ayu_windya

HOT CHICK

Seorang teman pernah bilang begini, “di dunia nyata, kalau kau kehilangan sebelah sepatu pada tengah malam, artinya cuma satu: kau mabuk berat.”

Then, it’s official.

I am … drunk.

Salahkan bachelorette party Jeanine yang baru berakhir pukul tiga pagi tadi.

Seluruh perabotan di salah satu kamar Hotel Santika yang sengaja disewa oleh Jeanine untuk keluarga dan teman-teman dekat tampak memiliki kembaran yang serupa dalam lapang pandangku. Belum lagi dentuman hebat di kepalaku yang tak kunjung hilang sejak—entahlah, beberapa menit? Beberapa jam?—yang lalu setelah aku sadar.

Dengan ‘sadar’, yang kumaksud adalah membuka mata dan tahu betul dimana aku berada saat ini. Mengingat rupanya aku tidak menutup tirai jendela kamarku dengan benar—pagi? Entahlah … siang?—ini aku dibangunkan oleh sinar matahari yang menyusup masuk melalui celah tirai yang tak tertutup rapat itu, langsung diarahkan ke kedua pelupuk mataku.

Ah, sialan! Aku bahkan tidak membersihkan make-up yang kukenakan sebelum pingsan total. Aku mengerang dan berguling, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, tahu betul bahwa kedua kelopak mataku masih berwarna perak dan ber-glitter sementara bibirku berwarna deep plumthanks to NYX—sebelum—

Bruk!

Huh? Suara apa itu?

Suara benda berat menghantam permukaan kasar itu diikuti sebuah erangan.

Aku berguling dan merangkak menyeberangi ranjang berukuran queen—yang tertutup oleh gumpalan selimut tak berbentuk—untuk melongok langsung ke lantai kayu di sisi ranjang.

Seseorang sedang berbaring terlentang di lantai.

Gadis itu masih memakai one-shoulder dress berwarna putih tulang yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, sepasang Louboutin Pigalle Follies Strass Glitter Siren ber-hak lancip setinggi dua belas senti membungkus kedua kaki pucatnya. Rambut burgundy-nya yang semalam ditata oleh seorang hairstylist langganan dengan sangat bergaya sekarang mencuat nakal ke segala arah, eyeliner hitamnya luntur, dan sebelah bulu mata anti-tsunami-nya menggantung loyo di ujung luar mata.

Aku tersenyum geli, sebisa mungkin menahan tawa.

“Cleva … tolong ingatkan aku akan alasanku menikah dua hari lagi?” Pertanyaan itu diutarakan sambil diseret, Jeanine jelas-jelas mabuk.

“Hmm…” aku pura-pura berpikir, “mungkin karena kau sangat amat mencintai Drew, sampai-sampai katamu kau tidak mau hidup tanpanya?”

Yeah, bagian ‘tidak mau hidup’ itu agak berlebihan. Salahkan vodka, vodka yang membuat lidahku menjadi seperti ini.

Jeanine terkikik geli, kemudian diputus oleh cegukan, kemudian gadis itu terkikik lagi.

“Oh, gila sekali! Kita harus melakukannya lagi kapan-kapan,” Jeanine menopang tubuhnya dengan kedua tangan, supaya kepalanya bisa sejajar denganku yang sedang berbaring tengkurap secara diagonal di atas ranjang.

“Nuh-uh,” aku menggerak-gerakkan jari telunjuk tangan kananku ke kanan dan kiri dengan gaya seorang guru yang sedang memarahi anak nakal. “Tidak. Kau tidak akan pernah menjadi gadis lagi setelah mengalami pernikahan, Jean.”

Jeanine menghela napas, wajahnya tampak sedih, namun mendadak ia kembali tampak ceria. “Yeah, kita bisa melakukannya lagi saat bachelorette party-mu … atau Sammy!”

Jeanine menjerit senang.

Aku mengerang protes. Aku bahkan belum mendapatkan pangeran bermobil putihku, bagaimana mungkin mereka bisa mengadakan bachelorette party untukku?

Pikiran melanturku disela dering telepon yang berisik, membuatku menarik bantal dan menyembunyikan kepalaku dibaliknya.

Samar-samar dapat kudengar percakapan antara Jeanine dan siapapun-itu di seberang telepon. Mungkin Sammy. Atau Drew. Tidak. Pasti Sammy. Sangat mungkin Sammy. Si perfeksionis itu satu-satunya yang tidak mabuk diantara kami bertiga semalam. Sammy kalah undian, dia tidak boleh mabuk supaya bisa menyetiri kami pulang-pergi. Lagipula Jeanine akan selalu berubah menjadi gadis manja jika mengobrol dengan Drew.

Pasti bukan Eric. Eric tidak masuk hitungan. Kami bertemu dengannya secara tidak sengaja saat club-hopping kemarin, ia mengekori kami setelahnya. Semacam bodyguard, memastikan tak ada yang macam-macam pada Sammy. Adiknya. Yeah, begitulah.

Ya, ampun. Aku menyedihkan. Dan mabuk.

See? Aku bahkan tidak berpikir dengan benar.

“Jeanine. Yeah … oke. Apa! Kau bercanda!”

Tawa lepas Jeanine membuatku menyingkirkan bantal dan menatapnya yang sedang menatapku dengan pandangan seseorang yang baru memenangkan lotre.

Gadis itu meletakkan telepon kembali pada dudukannya, meleset beberapa sentimeter sehingga untuk beberapa jam kedepan—setidaknya sampai kami benar-benar sober—seseorang harus menghubungi kami melalui ponsel. Itu, jika kami dapat menemukan dimana kami meletakkan ponsel kami semalam.

“Kau mabuk berat, ya, Cleva?” Jeanine tersenyum geli.

“Yeah. Bukannya itu sudah jelas?” Aku menjawab sarkastik.

Jeanine tertawa. “Bukan itu, maksudku, mabuk berat benar-benar mabuk.”

Aku mulai bertanya-tanya siapa yang lebih mabuk diantara kami berdua saat ini, Jeanine atau aku.

“Di mana sebelah sepatumu?” Seolah tak tahan untuk menyimpan rahasia besar sendirian, Jeanine melemparkan pertanyaan pamungkasnya.

“Huh?” Aku mengangkat kaki kananku dan melihat bahwa satu-satunya Louboutin yang kupunya—aku tidak terlahir kaya seperti Jeanine atau Sammy—Hot Chick merahku masih membungkus kakiku dengan baik, kemudian kaki kiriku dan—

Oh. Sialan.

Sial! Sial! Sial!

Seorang teman pernah bilang begini, “di dunia nyata, kalau kau kehilangan sebelah sepatu pada tengah malam, artinya cuma satu: kau mabuk berat.”

Teman yang dulu mengatakan itu padaku … Jeanine.

Saat ini sedang menertawaiku habis-habisan.

“Oh, sudahlah, jangan khawatir, Cleva.” Jeanine mengibaskan tangan, seolah-olah kehilangan sebelah Louboutin bukanlah masalah besar. “Eric menemukannya, ia menyimpankannya untukmu. Yang barusan itu Eric, bertanya kalau-kalau ada diantara kita yang kehilangan sebelah sepatu, rupanya ia sudah menelepon ke ponsel kita sejak tadi.” Gadis itu tertawa.

Eric. Kakak Sammy. Yang kutaksir habis-habisan sejak SMA. Dulu kapten tim basket, sekarang pengusaha sukses, dan lajang. Masih sangat lajang. Pangeran bermobil putihku.

Tidak. Tidak, tidak!

Terdengar ketukan di pintu.

“Nah,” Jeanine bangkit dan berjalan terseok-seok. “Itu pasti dia, tadi kuminta Eric mengantarkannya kesini.”

Kupikir hari ini tidak bisa berubah jadi lebih buruk lagi.

Aku menarik selimut dan bersembunyi di baliknya, tepat saat Jeanine membukakan pintu kamar.

Aku hanya sempat melihat sekilas. Eric—dengan tubuhnya yang tinggi dan atletis, kemeja biru laut dan celana chino berwarna krem, rambut bergelombang berwarna kecokelatan tersisir rapi—membawa Louboutin Hot Chick merah laknatku di tangannya. Seperti Prince Charming-nya Cinderella, hanya saja yang ini versi Louboutin alih-alih sepatu kaca. Ia tersenyum, tampan sekali.

“Ini milik Cleva? Dimana dia?”

Samar-samar kudengar Eric bertanya.

Jangan dijawab, kumohon, jangan dijawab. Tutup saja pintunya. Aku berkomat-kamit mengucapkan permohonan tanpa kata dari balik selimut.

Sia-sia.

“Mabuk berat,” Jeanine menjawab. Entah kenapa, tanpa melihatpun aku dapat menebak bahwa gadis itu sedang tersenyum licik.

“Cleva masih tidur, Ric, coba saja kau bangunkan dia. Mungkin dengan true love kiss?”[]

WHAT HAPPENED IN BUDAPEST, STAY IN BUDAPEST … OR NOT

Coretan 7-18 – Nulis Random 12 hari

Warning: Parental Guidance 13 years under (PG-13) – untuk 13 tahun keatas

 

I have that rush of feeling again.

Agitasi. Perasaan yang mengatakan bahwa aku sedang diawasi.

Sepasang mata, aku melihatnya kemarin.

Sepasang mata dengan warna iris berbeda milik seorang pemuda.

Aku mengerenyit menatap apa yang baru saja kutuliskan di atas kertas tisu.

Pada pukul sepuluh pagi waktu setempat, aku berada pada pojok tersibuk di Budapest dan bersembunyi untuk menikmati secangkir kopi.

Aku menghela napas dan berusaha mengguncang pikiranku dari keadaan trans beberapa menit yang lalu. Ini bukan yang pertama kalinya kualami. Sejak menginjakkan kakiku di Bandara Internasional Ferihegy di Budapest, aku selalu trans. Setidaknya sekali dalam sehari.

Menurut teman dekat sesama penulis, ini adalah hal yang biasa terjadi ketika seorang penulis begitu larut terhadap cerita yang dibuatnya sampai cerita itu … menyetirnya. Cerita itu akan menjadi sangat hidup, seolah-olah penulisnya tidak punya kendali terhadap tulisannya. Seperti apa yang terjadi pada Jostein Gaarder dalam Sophie’s World.

Menurutku bukan itu masalahnya. Menurutku masalahnya adalah sihir kuno yang melayang seperti lapisan kabut tipis transparan pada kota ini.

Budapest.

Sebuah kota yang terbagi menjadi dua wilayah, Buda dan Pest, dihubungkan oleh Sungai Danube yang magis.

Dulu, saat sedang asyik berdiskusi tentang rencanaku untuk travelling, seorang teman pernah menyatakan rasa simpatinya mengenai Holocaust Shoes Memorial, sebuah memorial berupa barisan sepatu hitam tak bertuan yang terletak di promenade Danube sisi kota Pest. Bukan sentimennya mengenai peristiwa Arrow Party yang konon terjadi pada Perang Dunia Kedua—dimana orang-orang Yahudi disuruh melepas sepatu mereka dan dibunuh di tepi Danube supaya tubuh mereka jatuh di sungai lalu dibawa oleh arus—yang menarik perhatianku, melainkan caranya mendeskripsikan kota ini. Katanya waktu itu, “sungguh ironis … Danube yang cantik bak seorang putri, dengan Buda yang menawan di tangan kanan dan Pest yang memikat di tangan kiri, ternyata menjadi saksi bisu sebuah peristiwa kelabu.” Tetapi, bukankah semua keindahan pernah melalui masa terburuknya?

Termasuk kota ini.

Kota tua yang sangat misterius dengan koleksi arsitektur bangunan yang—karena aku bukan pengamat arsitektur, aku tidak bisa menggambarkan dengan tepat mencontoh era apa arsitektur bangunan-bangunan tersebut, mungkin bergaya Gothic, atau Rensissance, mungkin Rococco, atau justru Victorian-style—seolah melompat keluar dari buku cerita anak-anak tentang pangeran dan puteri raja.

Lihat saja atap kerucut a la cone es krim terbalik yang bertebaran pada Fisherman’s Bastion. Atau, gerbang utama melengkung lengkap dengan jeruji besi khasnya pada Vajdahunyad Castle dan monumen simbol kepahlawanan di setiap sudut kota yang strategis, seperti yang bisa dilihat di Heroes Square dan Hosok Tere. Belum lagi—

Aku merasa seperti tercekik secara tiba-tiba oleh tali yang tak kasat mata.

Agitasi. Lagi.

“Maaf.”

Aku mengangkat wajah dari sehelai kertas tisu yang sejak tadi kupelototi—berencana untuk ganti memelototi penggangguku—ketika pandanganku bersirobok dengannya. Bibirku terpisah dan mulutku menghasilkan suara mengerikan yang agak memalukan. Jenis suara yang bunyinya seperti tikus yang ekornya terjepit.

Setidaknya seharusnya aku bisa menghasilkan suara yang sedikit lebih menggoda jika tujuanku adalah untuk mengapresiasi visualisasi fisiknya.

Yah, suara-tikus-yang-ekornya-terjepit itu sudah tidak bisa lagi kukembalikan ke dalam tenggorokanku, kan?

Ngomong-ngomong soal pengalihan perhatian … Singkat cerita, aku baru saja bertemu dengannya, orang yang deskripsinya kutuliskan beberapa detik lalu pada selembar tisu di hadapanku. Pemuda yang berasal dari imajinasiku.

Ralat, tadinya berasal dari imajinasiku. Sekarang sama nyata seperti secarik tisu di hadapanku, bisa kulihat dan kusentuh—aku ini sedang bicara apa sebenarnya?

Ia tidak menghilang seperti asap, atau kehilangan anggota tubuhnya, jadi pasti aku tidak sedang berkhayal. Ia berdiri di sana, di hadapanku. Lengkap dengan tubuh tegap dengan rasio masa otot dan masa lemak yang tinggi, tulang wajah kaukasian dengan garis rahang yang tajam, rambut yang panjangnya sedikit melewati telinga—warnanya dark chocolate jenis sembilan puluh persen, nyaris hitam—bibir yang tipis dan agak meremehkan, dan sepasang iris berbeda warna.

“Ah, apakah kursi ini ada yang menempati?” Ia menunjuk kursi kosong tepat di seberang mejaku.

Aku menggeleng. Dengan mulut terbuka. Seperti orang tolol.

Kenapa tidak sekalian saja aku meneteskan air liur seperti anjing rabies?

Aku baru menyadari bahwa pemuda ini berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Budapest yang kental, pengucapan Bahasa Inggrisnya agak tebal.

Mengedipkan mata dan berusaha untuk tampak beradab aku berdehem dan menenangkan diri ketika ia memesan secangkir kopi kepada seorang gadis pelayan—yang jelas-jelas menggodanya—dalam bahasa ibunya. Tepukan ringan di punggung tangan dan cara gadis itu mencondongkan tubuhnya itu sangat disengaja. Apalagi caranya terkikik genit, sangat palsu, sepalsu dadanya yang berukuran D.

Ups.

Hey, jangan salahkan aku, aku ini seorang penulis. Aku memperhatikan detail yang biasanya luput dari perhatian orang lain.

“Aku melihatmu memelototi secarik tisu dari seberang ruangan. Kalau aku tidak menyapamu, kupikir mungkin tisunya sudah terbakar jadi abu.” Pemuda itu terkekeh, menertawai leluconnya sendiri.

***

“Kau tahu, kan, kalau yang baru saja kau lakukan itu namanya pembunuhan karakter? Kau baru saja menjatuhkan harga si pemuda tampan.” Aku nyaris terjengkang mendengar suara beraksen Amerika—yang tidak akan pernah salah kukenali akibat pertemanan akrabku dengan seorang bule pirang asli made in New York—mengomentari tulisanku dari balik punggungku.

Aku memutar tubuh dan berhadapan langsung dengan sepasang mata yang bersinar jenaka.

Perempuan itu balas menatapku.

Rasanya aku mengenali wajah itu, rambut hitam ikal sedikit melebihi bahu, senyum yang ramah terentang dari telinga kiri sampai ke telinga kanan—

“Kau tidak … Kau bukan—Astaga! Gena? Gena Showalter?” Aku bangkit dari kursiku, nyaris membuatnya terjengkang. Gena, bukan kursinya, karena ia duduk tepat di belakangku. “Itu benar kau?”

Di sini, di Budapest, dengan sihir kuno yang melayang seperti lapisan kabut tipis transparan, aku tidak lagi bisa membedakan yang mana yang sihir, mana yang kenyataan.

Apakah ini nyata? Ataukah ini sihir?

Gena bangkit dari kursinya. Melihat dari cangkir kopinya yang sudah diminum separuh, rupanya sejak tadi kami duduk saling memunggungi satu sama lain sebelum akhirnya ia menyapaku.

First thing first, aku harus pastikan dulu bahwa pikiranku tidak mengelabuiku.

Aku menjerit. Ya ampun, itu pasti memalukan. Tetapi aku tak peduli, aku menjerit dan memeluk Gena.

Erat. Dia tidak menghilang diikuti bunyi ‘poof’. Berarti perempuan ini nyata.

Gena Showalter! Penulis idolaku yang selama ini hanya kukenal lewat gaya menulisnya yang luar biasa, yang sedikit kepribadiannya hanya kukenal melalui wawancara-wawancara singkat—

“Benarkah ini kau?”

“Yeah, it’s me.” Gena balas menatapku sambil mengibaskan tangan seperti mengusir lalat. Aku terlambat menyadari sebuah MacBook Pro yang tertutup di hadapannya.

“Gena yang itu?” Aku bertanya linglung, tidak sadar bahwa kemungkinannya lawan bicaraku tidak mengerti apa maksudku. Karena, aku sendiri tidak mengerti apa maksudku.

“Gena yang itu,” Gena mengangguk, “kalau maksudmu dengan itu adalah Si Ratu Underworld. Bukan. Maksudku bukan Persephone, tentu saja, maksudku karena aku yang menciptakan mereka, Lords of The Underworld, jadi anggap saja aku Sang Ratu, begitulah.”

Dia mengatakan semua itu tanpa menarik napas.

Wah, hebat! Tidak hanya menulis tentang dunia sihir dan makhluk-makhluk yang berada di dalamnya, perempuan di hadapanku ini juga ternyata bisa membaca pikiran!

Strange place, strange thing!

So, what’s your name?” Gena bertanya, kembali menduduki kursinya. Aku meraih laptopku yang masih terbuka, memindahkan cangkir kopiku ke mejanya sebelum dia bisa membuka mulut untuk memprotes, dan menyeret kursiku agar berbalik menghadap meja Gena. Kalau aku ingin ia memberikan masukan untuk tulisanku, aku harus duduk di sisinya, bukan di seberang meja.

“Ayu,” aku menjawab sambil menyingkirkan lembaran The Budapest Times, kertas tisu, dan clutch berwarna ungu yang berserakan di atas meja Gena untuk memberikan tempat bagi laptopku.

“Huh, sorry? How did you say that?” Aku duduk di kursiku setelah meletakkan laptopku di atas meja. Aku baru ingat kalau nama panggilanku agak sulit untuk diucapkan, terutama untuk mereka yang tidak berlidah Indonesia.

“Ah, cara mengucapkannya seperti ‘I’,” aku menunjuk diriku sendiri, kemudian menunjuk dirinya, “dan ‘U’. Diucapkan dengan cepat dan bersambung,” jelasku.

Gena mengangguk dan mencoba untuk mengulangi, keningnya berkerut. “Agak rumit, ya?”

Aku tersenyum.

“Baiklah, Ai …”

Ai?

“… kembali ke masalah semula sebelum aku mengagetkanmu dan membuat seluruh pengunjung kedai kopi mengamati kita seolah petasan cina baru saja meledak,” perempuan itu tertawa sendiri karena leluconnya, “mengenai tulisanmu. Kau baru saja merusak karakter pria tampanmu dengan narasimu.”

“Maksudmu dengan merusak karakter?”

“’Pemuda itu terkekeh, menertawai leluconnya sendiri.’” Gena membaca baris terakhir yang kuketikkan pada layar laptopku beberapa saat yang lalu. Aku memang mengetiknya dalam Bahasa Inggris bukan dalam bahasa ibuku. “Padahal image yang kau bangun untuk pemuda ini sudah baik sekali, terutama dengan caramu mendekskripsikan fisiknya dan mengekspresikan reaksi si tokoh utama perempuan dan gadis pelayan padanya. Tapi, kau mengacaukannya dengan menuliskan narasi seperti itu,” Gena menggeleng.

“Begitukah? Menurutku tidak ada yang salah dengan narasiku.” Aku berkomentar kering, tidak suka, sekalipun yang mengkritikku adalah penulis idolaku sendiri. Aku paling tidak suka dikritik terutama jika karyaku belum selesai. Karena, berarti karya itu masih mentah, aku belum sempat menyunting, apalagi memolesnya.

Gena pasti menyadari nada defensif yang kugunakan untuk membela diri, karena ia memalingkan wajah dari layar laptopku untuk menatapku. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Ini ceritamu, tentu saja kau berhak untuk melakukan apapun yang kau inginkan padanya. Hanya saja … begini, apa tujuanmu menulis? Bukankah kau ingin tulisanmu dibaca dan disukai? Aku bisa membantumu dalam hal itu, Ai. Bagaimanapun juga, aku jauh lebih berpengalaman darimu dalam hal menghadapi selera pembaca. Tetapi, tentu saja aku tak dapat melakukannya jika kau tidak mengijinkanku untuk melakukannya.”

Aku terdiam. Gena benar. Bukankah aku ingin dia memberi masukan untuk tulisanku. Lalu mengapa aku merasa tersinggung saat dia memaparkan kenyataan pahitnya padaku? Aku seharusnya berterimakasih atas pengamatan jelinya yang terlatih akibat pengalaman menulisnya.

Kupikir aku sudah siap menerima kritikan, ternyata belum. Padahal aku sudah luar biasa siap menerima pujian. Yah, itulah masalahnya, kan? Siapapun biasa dengan mudah menerima pujian, tapi hanya orang berhati besarlah yang siap untuk menerima kritikan. Rupanya aku bukan salah satu dari orang berhati besar itu.

Padahal Gena hanya mengkritik satu kalimat saja … apa yang terjadi bila ia mengkritik seluruh isi ceritaku sampai ke tanda bacanya?

Aku menghela napas, barusan smartphone Gena berbunyi dan ia terlibat percakapan serius dengan seseorang di ujung telepon, karena itulah aku leluasa untuk berpikir lebih dalam dan mencoba untuk mengesampingkan emosiku.

“Gena,” aku memulai.

Ia memotongku saat aku baru saja akan mencoba menjelaskan. “Ai, I’m so sorry. I have a meeting in half hour, I gotta rush. Listen, I’ll stay in Budapest for another three days, so why don’t you finish your story and send it to my email. I’ll read it and we can meet again three days from now before my tour to Asia to have a little conversation about it. How’s that?”

Penulis sekaliber Gena Showalter mau meluangkan waktu diantara kesibukannya untuk sekedar membaca ceritaku dan menemuiku lagi untuk membahasnya sebelum ia melanjutkan turnya ke Asia?

Mengapa ini terdengar seperti lelucon di telingaku?

Mungkin aku memang punya masalah serius dalam hal menghadapi kebaikan orang lain.

Are you serious?” Aku mengerenyitkan dahi, tidak percaya.

Dunia pasti sedang mempermainkanku. Aku tidak pernah percaya pada keberuntungan. Semua hal ada label harganya. Selalu ada yang perlu dibayar, yang ini juga pasti begitu.

Nope. I’m dead-serious.” Ekspresi di wajah Gena terlihat persis seperti seorang prajurit yang sedang tengkurap di sebuah medan peperangan dengan tangan membidik senapan ke tank musuh. Jika bidikannya meleset, ia pasti mati, karena musuh tahu dimana persembunyiannya.

Perumpamaanku barusan pasti agak berlebihan, tetapi ekspresi yang tergurat di wajah Gena tepat seperti itu.

Okay,” aku akhirnya mengangguk.

Good.” Gena mengangguk sambil tersenyum sebelum meraup MacBook Pro dan clutch ungunya, kemudian melenggang meninggalkan kedai kopi. Sebuah Range Rover berwarna hitam sudah terparkir manis menunggunya di pintu depan.

Tepat ketika Range Rover itu melaju kencang di Jalan Andrassy—pusat kehidupan Kota Budapest dimana kedai kopi ini terletak—dan meninggalkan asap hitam di belakangnya, aku baru menyadari satu hal.

Gena lupa meninggalkan alamat emailnya untukku.

Kuhantamkan dahiku ke atas keyboard laptopku yang masih terbuka tiga kali, menghasilkan deretan huruf dan tanda baca tak bermakna di layar.

Aku mengerang. So … close.

Seharusnya aku tahu kalau tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua hal ada label harganya.

Aku baru saja membuang kesempatan luar biasa dengan ketololan luar biasa, langsung ke jalanan Budapest.

***

“Follow the path and … meet me at the end of the street.”

Seperti hantu tak kasat mata, suara itu berbisik lembut di dalam pikiranku. Ada esensi yang terbawa bersamanya, rasanya seperti godaan, cokelat yang lembut, dengan bahaya sebagai filling-nya. Aroma yang menyertainya lembut, seperti kebun bunga mawar. Sementara sepasang mata itu … persis seperti batu berharga, kedua irisnya berbeda warna. Yang satu kecokelatan, yang satu kehijauan. Tanpa wujud fisik, tanpa wajah. Hanya sepasang mata.

Kalau saja aku tidak membaca lanjutan serial paranormal romance itu sebelum tidur, aku pasti tidak akan bermimpi seaneh ini.

Pasti gara-gara itu.

Aku mengabaikan peringatan samar dari sisi logis benakku yang mengingatkan bahwa akulah yang sudah menciptakan seorang karakter dengan kedua iris mata berbeda warna.

Aku sedang bermimpi dan tidak menginginkan logika saat sedang melakukannya.

“Tunggu! Siapa kau?” Aku berlari mengejar saat sepasang mata itu melayang menjauh, berteriak pada kekosongan hitam tak berbatas di dalam pikiranku sendiri. Tetapi, sepasang mata itu sudah menghilang.

Yeah, benar. Aku tahu betul bahwa aku sedang bermimpi, walaupun aku tidak begitu ingat bagaimana aku bisa sampai pada bagian mimpiku yang ini.

Kekosongan itu mulai mengabur. Aku dapat merasakan tubuhku bergerak beserta hawa panas yang melingkupiku, aku mulai sadar bahwa aku sedang tidur. Sebentar lagi kesadaran akan menepuk pundakku seperti seorang teman lama dan kemungkinan besar aku akan melupakan apapun yang kutemui saat ini. Saat sedang bermimpi.

Ada tawa yang mengikuti pikiranku barusan. “Kau tahu siapa aku. Kau akan ingat, Sweetling. Aku akan membuatmu tidak bisa melupakanku.”

Ada kepongahan khas kaum Adam pada suara baritonnya.

Aku merasa seperti baru saja ditelanjangi. Aku menghela napas, merasakan tubuhku gemetar.

Aku tidak dapat menemukan istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan sensasi yang kurasakan ketika sesuatu diluar diriku mengetahui setiap hal yang kupikirkan, setiap pikiran yang kuciptakan. Rasanya rapuh sekali, diekspos pada tingkat yang sangat intim, pada tingkat pikiran.

Seolah menyukai pikiranku barusan, aku nyaris dapat merasakan senyum tertahan ketika kekosongan menjawabku, masih dengan suara bariton yang sama. Seperti bahaya berlapis cokelat Belgia.

“Kau akan mengenaliku saat kita bertemu.”

Secepat mulainya, mimpi itu berakhir, disertai sebuah keheningan yang meledak di telingaku.

Aku menarik napas sepenuh paru-paruku tepat ketika kedua kelopak mataku membuka, leherku sakit, rasanya seperti tercekik. Ya Tuhan, aku pernah membaca mengenai night terror untuk riset tulisan terakhirku, tapi tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengalaminya sendiri. Tubuhku nyaris membunuh diriku sendiri melalui refleks vagal saat aku sedang tidur!

Aku menyingkirkan anak-anak rambut yang berjatuhan di sekeliling wajahku dan menempel akibat peluh dengan jemari gemetar. Rider-back berwarna putih yang kukenakan dengan celana pendek katun sebagai piyama saat ini basah kuyup seolah aku berdiri di bawah pancuran air semalaman dan bukannya pergi tidur.

Ada yang tertinggal dari mimpiku barusan … bukan hanya sekedar ingatan bahwa aku sedang bermimpi, seperti biasanya.

Aku menyilangkan kedua lengan ke tubuh bagian depanku dengan erat, kedua lututku kutekuk sampai menempel dengan dada. Berusaha keras untuk memahami, berusaha keras untuk mengerti. Berusaha keras untuk melupakan. Sia-sia.

Ingatan itu menempel di bagian belakang pikiranku seperti plak menempel pada pantat penggorengan. Tak diinginkan, tapi tak dapat diabaikan. Ingatan mengenai sebuah jalan setapak diantara dua buah bangunan batu tua.

Budapest. Jalan setapak itu berada di sini. Di kota dimana sihir datang melalui mimpi.

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu, tetapi aku percaya bahwa kali ini intuisiku benar.

Dulunya, aku adalah seorang yang sangat skeptis. Aku tidak percaya pada hal-hal yang berbau supranatural, sampai pada suatu hari aku mengetahui bahwa seorang buyut dalam pohon silsilah keluarga beberapa tingkat di atasku memiliki kelebihan. Itu dan cerita kedua orangtuaku bahwa waktu kecil aku punya beberapa teman bermain … yang tak berwujud. Sejak saat itu, duniaku berubah, cara pandangku berubah. Aku bisa merasakan sihir, sekalipun hal tersebut hanya berupa peringatan samar di kepalaku.

Tetapi yang satu ini berbeda … tidak pernah sekuat ini sebelumnya. Tidak pernah ditujukan secara khusus padaku sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Follow the path and … meet me at the end of the street. Kau tahu siapa aku. Kau akan ingat, Sweetling. Aku akan membuatmu tidak bisa melupakanku. Kau akan mengenaliku saat kita bertemu.

Kau tahu siapa aku.

Kau tahu siapa aku.

Kau tahu siapa aku.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku sekering gurun Sahara, tapi bukan itu yang meresahkanku. Dia bilang aku tahu siapa dia.

Pertanyaannya sekarang, siapa?

***

Szia[1], Budapest!

Aku merindukan hal-hal sederhana yang menjagaku tetap waras.

Seperti Starbucks dan pasar.

Terutama setelah insiden yang terjadi antara aku dan Gena juga mimpi meresahkan semalam.

Dengan segelas Starbucks green tea cream frappucinno berukuran venti tergenggam di tangan kanan, tali tas selempang kecil berwarna hitam dari Kipling menyilang di depan dada, sehelai t-shirt ketat berwarna pink mencolok dengan logo Summer Sang Surfer Girl menutupi tubuh bagian atas, Levi’s blue jeans yang bagian bawahnya dilipat satu kali menangkup kedua tungkai, dan sepasang UP wedges sebagai alas kaki, aku terlihat seperti turis remaja berusia delapan belas tahun dari Asia.

Yang paling penting, aku terlihat normal.

Hanya saja usiaku sebenarnya dua puluh lima. Laundry-ku belum diantar oleh bagian household hotel. Pilihanku pagi ini terbatas antara t-shirt ketat yang kekanak-kanakan ini atau atasan model halter ketat berwarna darah yang lebih cocok dikenakan untuk club-hopping nanti malam daripada jalan-jalan di pasar pagi ini.

Sudah bisa ditebak, bahwa aku ingin mendedikasikan hari ini untuk menjadi turis normal. Menikmati kota, jalan-jalan, dan berdansa di klub. Bukannya nongkrong seharian di kedai kopi dengan laptop terbuka, wajah tanpa make-up dan berkerut memikirkan plot lanjutan dari cerpen terbaru yang sedang kugarap.

Aku akan melanjutkannya tentu saja, karya terbaruku, dengan atau tanpa Gena, hanya saja tidak hari ini. Ah, ngomong-ngomong soal Gena, masih ada sesal yang tertinggal saat aku mengingat pertemuan kami yang terakhir, yang berakhir dengan ketololanku.

Jadi, di sinilah aku sekarang, di ujung Szabadság Bridge wilayah Pest, mondar-mandir seperti turis normal di Central Market Hall—Nagy Vásárcsarnok, menurut peta lokal, entah bagaimana cara membacanya—pasar tradisional modern indoor versi Hungaria. Ke manapun mata memandang, aku menemukan paprika, merah, kuning, hijau, persis seperti lampu lalu lintas.

Setelah puas berkeliling lantai dasar, aku naik untuk mencari kios makanan yang sangat direkomendasikan untuk para turis, Fakánal, yang menjual fast food lokal. Karena belum puas berkeliling di lantai ini, aku meminta lángos[2]-ku dibungkus agar bisa kubawa berkeliling.

Aku masuk dan keluar kios, melihat-lihat barang-barang yang dijajakan para pedagang, terutama benda-benda kerajinan tangan. Tak ada salahnya membeli oleh-oleh lebih awal, saat mataku tertumbuk pada benda itu, telur-telur yang dilukis sangat cantik. Sangat cocok untuk buah tangan.

Aku mengeluarkan dompetku untuk membayar setelah susah payah berkomunikasi dengan pedagang yang hanya bisa berbahasa Inggris secara terpatah-patah, saat kejadian itu terjadi dengan sangat cepat.

Seseorang menabrakku sampai aku terjatuh, seorang anak laki-laki, dia tidak berbalik atau menanyakan kondisiku, langsung bangkit dan berlari. Saat aku sedang menggerutu dan mencoba untuk bangkit barulah aku menyadari sesuatu. Dompetku hilang!

Son of a b*tch!” Aku memaki.

Aku berlari secepat yang dimungkinkan wedges-ku dan berteriak. “Pencuri! Hentikan dia!”

Pencuri kecil itu sangat lincah, dalam waktu beberapa menit saja aku yang kewalahan mengejarnya sudah digiring meninggalkan Central Market Hall dan keluar masuk gang-gang kecil diantara bangunan-bangunan yang menjulang. Aku menapaki jalanan yang jelas-jelas bukan rute turis, sudah jelas aku tidak akan ingat rute yang sudah kulalui untuk nantinya kembali ke Central Market Hall, apalagi ke hostel tempatku menginap.

Aku berlari cukup jauh dan berpikir bahwa kelak ketika ada waktu aku harus memuji tingkat ketahanan sepatu buatan Diana Rikasari yang kupakai untuk berlari saat ini saat kulihat anak laki-laki itu berjarak beberapa meter di depanku. Rupanya kebiasaanku untuk sprint di lintasan lari terdekat setiap kali sedang menghadapi masalah ada gunanya di saat-saat seperti ini.

Jujur saja, aku tidak memperdulikan jumlah uang yang berada di dalam dompetku–aku belum sempat ke ATM sehingga hanya beberapa lembar mata uang HUF—Hungarian Forint—yang tersisa, beberapa lembar Euro yang setara dengan uang receh untuk ukuran Eropa, dan selembar uang seratus ribu rupiah yang kusimpan karena alasan sentimental, sebagai pengingat rumah—tetapi semua kartu identitasku ada di sana, KTP, SIM, kartu Identitas Program Profesi … akan sulit bagiku mengurus kehilangannya di sini. Setidaknya aku akan membutuhkan KTP-ku untuk mengurus dokumen kepulanganku dari sini kelak.

“Hei! Berhenti!”

Aku seperti sedang berada dalam adegan film yang klise, turis yang mengejar-ngejar pencuri, terlalu hanyut pada tujuan untuk menyelamatkan kartu-kartu identitas berhargaku sampai aku terlambat menyadari peringatan samar di dalam pikiranku.

Aku pernah berada di tempat ini.

Aku mengenal susunan bangunannya, lika-liku jalannya …

Follow the path and … meet me at the end of the street.

Aku nyaris tercekik saat ingatan akan mimpiku semalam menerjangku seperti badai.

Meet me … at the end of the street.

Beberapa meter di depanku terdapat sebuah percabangan jalan, tepat saat aku nyaris mampu merenggut kerah baju si anak laki-laki yang mencuri dompetku, anak laki-laki itu tersandung, kemudian bangkit dan kembali berlari, ia mengambil percabangan jalan yang mengarah ke sebelah kananku.

Aku berhenti, dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lutut, aku mencoba mengatur napas. Aku tidak mengejarnya lagi, karena anak itu sudah menjatuhkan dompetku saat ia terjatuh tadi.

Anak laki-laki itu tersandung karena seseorang menjegal kakinya.

Saat ini, dompetku berada di tangan orang tersebut, seorang pemuda. Mungkin penduduk lokal yang bisa berbahasa Inggris dan mendengar teriakan sepenuh hatiku. Pemuda itu sedang membungkuk untuk memungut dompetku.

Thank you.” Aku berkata dengan terbata-bata. “If not because of you I might’ve—”

Pemuda itu bangkit dari posisinya dan menatapku dengan intensitas emosi yang nyaris menakutkan, dompetku berada dalam genggamannya.

Aku kenal mata itu.

Itulah pikiran terakhirku sebelum aku kehilangan penglihatanku. Aku pasti sangat kelelahan.

“… mengatakan padaku bahwa kau menginginkannya. I said, gently, Lucien … Damn it! You scared the hell out of her.

She refused my presence …”

“Tentu saja dia menolak. Tidak akan ada manusia waras yang percaya, you know that.”

“… sudah menunggu terlalu lama … tidak bisa menunggu lagi …”

“Aku mengusahakannya untukmu, kau tahu …”

“… kemarin kau mengacaukannya.”

“… baru berkenalan, bagaimana mungkin aku bisa langsung menyeretnya ke depan pintumu? Cobalah berpikir seperti manusia normal.”

“Aku bukan manusia.”

Kemudian, pendengaranku mengecewakanku. Kelima inderaku mati total, membawaku kepada kegelapan tak berujung.

***

Aku sudah sadar.

Setidaknya sejak lima belas menit yang lalu.

Hal pertama yang kulakukan setelah sadar adalah mengumpulkan data inventaris akan seluruh anggota tubuhku. Aku duduk di atas kursi keras dengan kedua tangan dan kaki terikat. Sebuah kain lembut terikat erat di kedua mataku, sementara sesuatu merekat pada bibirku. Setidaknya mereka tidak menyumpal kedua telingaku, kehilangan fungsi salah satu panca indera sudah cukup buruk bagiku, setidaknya aku masih punya empat yang tersisa.

Kehilangan satu berarti mempertajam empat yang lain, yah, aku harus berterimakasih untuk kelebihan itu.

Aku tidak mengubah posisi tubuhku sejak kesadaranku kembali, aku tidak ingin membocorkan kepada siapapun bahwa aku sudah sadar penuh dan sedang berusaha untuk mencerna situasi di sekitarku.

Ingatanku mengenai kejadian sebelumnya sudah kembali dengan cepat, sangat cepat sampai rasanya memusingkan. Aku bukan orang bodoh, pasti semua hal ini berkaitan. Mimpiku, dompetku yang dicuri, pertemuanku dengan pemuda itu—aku mati-matian tidak bergidik ketika mengingatnya—kemudian percakapan yang kudengar tepat sebelum kesunyian menyergapku. Aku mengenal suara perempuan yang memaki dan bercakap-cakap dengan pemuda itu—siapa namanya? Lucien?—tahu betul siapa pemilik aksen Amerika itu.

“Aku sudah memenuhi janjiku. Aku sudah melakukan kontak fisik dengannya agar kau bisa menemuinya sendiri dengan cara favoritmu.”

Itu dia.

Gena.

Astaga! Apa hubungan Gena dengan pemuda itu?

Suara perempuan itu kembali. “Aku mempertemukanmu dengannya, keturunan terakhir Dewi Takdir yang diramalkan akan melepaskanmu dari kutukan yang mengikatmu dengan Hades. Sekarang … aku mau kau menepati janjimu.”

Keturunan terakhir Dewi Takdir? Kutukan? Apa-apan ini?

Aku mau muntah.

Ya Tuhan, aku melibatkan diriku sendiri dalam masalah apa?

Sejak awal menginjakkan kaki di kota ini aku tahu bahwa aku berurusan dengan kota dimana atmosfir yang melayang di atasnya diliputi oleh sihir, tapi aku tidak pernah—berharap pun tidak—untuk berurusan dengan sihir yang meliputi kota ini.

Aku hanya ingin berlibur dan menghasilkan sebuah cerpen!

Yeah, lihat apa yang dibawa liburan untukmu sekarang. Masalah. Dengan huruf ‘M’ besar.

Terdengar geraman yang tidak manusiawi.

“Dia tidak menerima kehadiranku, tidak mengingatku, apalagi mempercayaiku. Ramalan mengatakan bahwa gadis yang akan membebaskanku dari kutukan yang mengikatku dengan Hades adalah dia yang mengingatku. Kau membawakan gadis yang salah lagi padaku. Aku tidak akan mengembalikan pena sihirmu, Witch. Kalau saja kau tidak menuliskan cerita fiktif sialanmu itu tentangku sejak awal, kau tidak akan berurusan denganku. Tetapi tentu saja tidak, kau melakukannya, bahkan mendapatkan royalti yang besar atasnya.”

Ada teriakan feminim diikuti makian yang sangat fasih. Aku nyaris berjengit, mendengar Gena mengumpat seperti seorang pelaut.

“Seharusnya kau mempertimbangkan kemungkinan ini sebelum meniduri dan mencampakkan salah seorang Dewi Takdir,” Gena menggumam frustasi.

“Jaga mulutmu, Woman!”

Aku mendengar sesuatu pecah di kejauhan.

“A-aku tidak mungkin salah kali ini.” Kali ini suara Gena bergetar, seolah-olah Lucien sedang menempelkan pisau di tenggorokannya, mungkin memang itu yang pemuda itu lakukan. “Ia mengingatmu, Lucien. Ia menulis tentangmu! Aku membacanya sendiri! Ia memperlihatkannya padaku!”

“Ia bahkan tidak mau menuruti perintahku, tidak bisa menangkap pencuri sendirian. Bagaimana mungkin gadis turis Asia ini bisa membebaskanku? Ia tidak bisa mengingat kutukannya dengan benar! Ia bahkan mungkin tidak percaya bahwa sihir itu nyata!” Ada nada meremehkan mengikuti pernyataan Lucien barusan.

Sayangnya, aku percaya bahwa sihir itu nyata.

Kalau tidak aku tidak akan berada di sini saat ini, terikat, dan dipaksa mengingat kutukan yang tak pernah kubuat.

“Aku membaca salah satu karyanya yang dipublikasikan online,” Gena berkomentar lelah, seolah berbicara menguras habis sisa-sisa energinya. “Ia menuliskannya dalam bahasa ibunya, tetapi aku sudah meminta penerjemah menerjemahkannya untukku. Ia menulis tentang malaikat. Kalau ia percaya bahwa malaikat itu nyata, maka ia percaya bahwa sihir itu ada. Bahwa iblis sepertimu nyata.”

Geraman itu kembali terdengar. “Aku. Bukan. Iblis.”

“Kau tangan kanan Hades, aku tidak tahu lagi apa sebutan yang tepat untukmu kecuali ib—”

Kali ini bukan geraman, melainkan raungan memekakkan telinga memotong pernyataan Gena. “Aku ksatria! Aku adalah salah satu dari ksatria penjaga kotak Pandora!”

“Yeah, sebelum kalian para ksatria mengacaukannya karena tidak terima bahwa Para Dewa mempercayakan kotak itu untuk dijaga oleh Pandora, seorang perempuan. Kalian membunuhnya dan membebaskan semua iblis yang dikurung di dalam kotak ke dunia. Para Dewa menghukum kalian dengan menjadikan kalian wadah dari iblis-iblis tersebut … bla bla bla, seperti yang kutulis di dalam buku-bukuku. Lalu kau mengacau dengan meniduri salah seorang dari ketiga Dewi Takdir dan mencampakkannya kemudian. Seolah masalahmu belum cukup banyak saja. Ngomong-ngomong, siapa yang sudah kau tiduri? Tidak, jangan beritahu aku. Siapapun dia, gadis itu, ia hanya bersikap seperti gadis normal yang merasa dimanfaatkan, mengutukmu untuk menjadi kurir kesayangan Hades, menjadikanmu Si Penjemput Orang Mati.” Kali ini Gena terdengar sangat kesal, nyaris seolah ia memuntahkan seluruh kata-katanya.

Dewi Takdir? Penjemput Orang Mati?

Aku benar-benar mau muntah.

Pada satu atau dua kali wawancara yang kubaca mengenai Gena, aku ingat bahwa Gena pernah berkata bahwa seri paranormal romance-nya, Lords of The Underworld, yang mengambil latar belakang Kota Budapest didasarkan pada mitos mengenai dewa-dewi.

Dia hanya tidak pernah bilang bahwa sebagian besar dari cerita itu nyata.

“Gadis itu tidak berguna untukku jika ia tidak mengingatku.” Aku mendengar suara langkah-langkah berat yang mendekat. Suara telapak kaki yang beradu dengan lantai bergema di sekelilingku. Semakin dekat, semakin keras suaranya.

Sesuatu yang dingin mencengkram daguku dan mengangkat wajahku yang sejak tadi menunduk goyah.

“Sayang sekali … aku harus membunuhmu. Kau mendengar terlalu banyak.” Napas hangat menyentuh bibirku, pemuda itu rupanya berdiri—tidak, menunduk—terlalu dekat denganku.

Aku menahan napas, menahan getaran ketakutan yang menjalari tubuhku. Aku pasti mati jika salah bernapas sedikit saja. Akan lebih baik jika ia berpikir kalau aku masih—

“Berhentilah berpura-pura pingsan, Sweetling.”

***

Ada suara desingan logam.

Seperti sebuah mata pisau yang baru saja dibebaskan dari sarungnya.

Bunyi itu hanya bertahan selama satu detik, digantikan dengan sensasi logam dingin di leherku.

Aku menahan napas, tidak bergerak. Aku tidak bodoh, kalau aku berusaha meronta, kemungkinan besar … akulah yang akan membunuh diriku sendiri secara tidak sengaja.

Mengapa aku?

Aku tidak menyangka bahwa hidupku akan berakhir seperti ini.

Aku belum menerbitkan bukuku sendiri!

Aku belum menikah, aku bahkan belum punya pacar yang layak untuk diperkenalkan kepada kedua orangtuaku.

Jantungku bertalu-talu seperti seekor burung yang panik terkurung dalam sangkar sempit. Aku bisa merasakan pelipisku berdenyut, darah yang mengaliri membran timpani pada kedua telingaku berdetak seirama detak jantung.

Aku menelan ludah.

Bisa kapan saja sekarang.

Aku tidak mau menangis, tetapi air mataku tak dapat kutahan.

Kumohon … kumohon … pintaku putus asa pada keheningan di dalam pikiranku.

“Tunggu!” Itu suara Gena. “Biarkan aku bicara dengannya. Aku mungkin bisa membantunya mengingat.”

“Baiklah. Kau boleh bicara dengannya.” Suara tawa maskulin yang mengikuti kemudian, sama sekali tidak membesarkan hati, “setelah aku membunuhnya.”

“Bunuh dia kalau begitu, Lucien.” Suara feminim itu dingin dan meremehkan.

Wait … what?

“Tidak bisa, bukan?” Gena tertawa. “Karena kita berdua sama-sama tahu kalau aku benar. Kau tidak akan mau mengambil risiko kehilangan satu-satunya kesempatanmu untuk melepaskan diri dari kutukanmu. Ayolah, Lucien, berhentilah menakut-nakuti gadis malang ini. Aku bersumpah demi leluluhurku yang sudah menjadi abu—semoga mereka beristirahat dengan tenang—bahwa aku akan membantumu melepaskan kutukanmu.”

“Nah, bukankah bersumpah itu mudah?”

Aku berusaha keras mengatur napasku setelah Lucien melepaskan genggamannya di daguku, tetapi rasa perih masih tertinggal di tempat dimana sebelumnya ia menempelkan pisaunya. Samar, aku bahkan dapat mengendus aroma karat dan garam.

Pemuda itu melukaiku!

Maaf, Sweetling, tidak bermaksud melakukannya. Kalau saja kedua mataku sedang tidak ditutup kain, aku pasti sudah membelalak lebar. Makhluk itu berbicara di dalam pikiranku!

Ya, aku bisa bicara di dalam pikiranmu dan namaku Lucien bukan ‘makhluk itu’. Sayang sekali kau belum mengingatku. But you will. Soon.

Mengabaikan nada protes pada suara yang berbicara di dalam pikiranku, aku bertanya-tanya, apakah ia bisa membaca pikiranku juga?

Tentu saja bisa. Aku tidak pernah berniat untuk membunuhmu. Aku hanya membutuhkan sumpah penyihir ini, ia berusaha mangkir dari janjinya untuk membantuku. Kalian manusia kadang-kadang perlu sedikit dorongan untuk melakukan sesuatu.

Dia berkata seolah-olah dia bukan manusia.

Ingatan tentang percakapan Gena dan Lucien—sebelum Lucien mendapati bahwa aku sudah sadar—menderaku seperti cambuk. Oh, Tuhan … dia memang bukan manusia.

Aku bergidik.

“Apa sekarang aku boleh membebaskannya?” Gena bertanya.

“Lakukan saja apa yang kau mau.” Lucien menjawab tak acuh.

Maafkan aku soal lukamu, aku bisa menyembuhkannya dengan mudah, tetapi kau tidak akan menyukai caraku, mintalah Gena untuk menyembuhkannya sekalian. Berhati-hatilah, Sweetling. Penyihir licik itu lebih pintar daripada kelihatannya.

Berhentilah berbicara di dalam kepalaku! Aku memprotes.

Mengapa? Aku suka kepalamu. Lucien berkomentar pendek, tertawa pongah di dalam pikiranku.

Kepalaku bukan milikku lagi.

Benar. Kepalamu milikku. Untuk saat ini pikiranmu. Kelak ingatanmu.

Aku tidak menyukai ide itu.

Tidak? Baiklah, kau pasti akan menyukai yang ini. Pada akhirnya kau milikku.

Benar. Pada akhirnya aku akan menjadi miliknya, Si Penjemput Orang Mati.

Tawa pongah yang bergema di dalam pikiranku kemudian, tidak mungkin dapat disalahartikan.

***

Once upon a time, in a far far away land …

Semua orang tahu, bahwa kisah hidup seorang manusia, tidak mungkin diawali oleh Tuhan yang mengatakan kalimat pembukaan cerita.

Tidak seperti sebuah cerita, aku … tidak pernah tahu kapan bab tertentu dalam hidupku dimulai, bagaimana klimaksnya, dan apakah pada akhirnya Sang Penulis Cerita mengakhiri cerita dengan aku yang tetap hidup atau berakhir dalam sebuah kalimat dengan tanda titik.

Jika aku seorang pembaca, maka aku bebas memilih untuk meneruskan membaca sebuah buku, atau melemparnya ke pojok kamar begitu aku mulai tidak menyukai sebuah cerita, sebelum menggantinya dengan cerita lain yang lebih menarik. Tetapi, di dunia nyata … aku tidak memiliki kewenangan untuk mengubah jalan hidup seperti yang kusukai, apalagi membuang hidupku—yang hanya satu-satunya—seperti seonggok sampah. Aku hanya … perlu melaluinya. Kemudian, semuanya akan baik-baik saja.

Seandainya saja segalanya semudah kelihatannya …

“Mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku tahu, pertanyaan yang kuajukan barusan terdengar sama sinisnya dengan nada suaraku.

Aku tidak lupa cara bersopan santun, hanya memutuskan bahwa saat ini bukanlah salah satu saat dimana sopan santun perlu diterapkan. Aku tidak berada di sini atas kemauanku sendiri. Itu dan fakta bahwa perempuan yang sedang sibuk meramu sesuatu di depanku inilah yang menyarankan agar seorang pemuda asing dari mimpiku membunuhku.

Gena menghentikan apapun yang sedang dilakukannya selama sesaat, tetapi perempuan itu tidak menolah padaku sebelum menambahkan sesuatu—setangkai penuh dedaunan kecil-kecil yang tidak kuketahui namanya ke dalam mortar—kemudian memutar pergelangan tangan kanannya dengan ahli saat menggeruskan pestle di atasnya.

“Aku tahu kau pasti merasa bingung,” Gena memulai, “aku tak tahu harus menjelaskan dari mana.”

“Mulailah dengan menceritakan siapa kau sebenarnya.” Aku sudah tidak terikat di kursi. Saat Gena membuka kain yang mengikat kedua mataku, kami hanya berdua di dalam ruangan ini. Sebuah kamar dengan keempat dinding terbuat dari susunan batu yang dipotong kasar. Hanya ada satu pintu kayu sebagai akses masuk dan keluar, tanpa jendela. Ruangan ini lembab dengan pencahayaan lampu yang temaram, aromanya seperti campuran lumut dan masa lalu. Belum lagi, dilengkapi lubang-lubang ventilasi yang dibuat secara harfiah. “Karena rupanya kau bukanlah seorang penulis, seperti yang selama ini kuketahui.”

Gena menghela napas. “Aku seorang penulis, Ai. Seperti yang semua orang ketahui. Hanya saja, aku bukan seorang penulis yang … cakap. Aku tidak bisa menulis dengan cukup baik. Aku mendapat bantuan.”

Aku teringat pada percakapan Gena dan Lucien sebelumnya. “Pena sihir? Apakah kau seorang penyihir?”

“Apakah kau percaya bahwa sihir itu nyata, Ai?” Gena tidak menjawab pertanyaanku.

“Apakah jawabanku ada hubungannya dengan pertanyaanku padamu?”

“Ya.” Kali ini Gena menoleh untuk menatapku ketika ia sekali lagi berhenti menggerus apapun isi dari mortar-nya. “Pandanganmu terhadap sihir akan mempengaruhi caraku menjelaskan segala sesuatunya padamu.”

“Aku mempercayainya.” Aku tidak bohong. Aku percaya bahwa sihir itu ada. Terutama saat ini, ketika seorang penyihir sedang meramu entah obat atau racun di hadapanku, sementara seorang iblis berbicara di dalam pikiranku.

“Kau berbohong padaku,” Gena berkomentar singkat.

Begini, aku percaya bahwa sihir itu ada, tetapi tidak percaya bahwa sihir itu nyata. Bagiku sihir adalah segalah hal absurd yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

Peringatan itu kembali dalam bentuk ingatan.

Berhati-hatilah, Sweetling. Penyihir licik itu lebih pintar daripada kelihatannya.

Ngomong-ngomong, pemuda iblis itu benar.

“Memangnya aku punya pilihan?” Aku mengangkat bahu, skeptis. “Seseorang yang kupikir kukenal baru saja menunjukkan kepadaku betapa salahnya penilaianku padanya selama ini. Sudah jelas aku tidak bisa mempercayai penilaianku lagi.”

Sudut mulut Gena terangkat ke atas. “Tidak. Kau tidak punya, Ai. Kau harus mempercayai bahwa sihir itu nyata, suka maupun tidak. Untuk menjawab pertanyaanmu, ya, aku adalah seorang penyihir. Seorang peramu, lebih tepatnya.”

Aku tidak bereaksi mendengar pengakuan tersebut. Ekspresi emosi adalah salah satu bentuk kelemahan. Aku butuh seluruh sisa kekuatanku sekarang, sekalipun hal tersebut akan membuatku seekspresif patung pualam sepanjang hari.

“Pemuda yang kau sebut Si Penjemput Orang Mati, apakah dia adalah Lucien yang sama dengan Lucien yang menjadi karakter utama dalam buku kedua seri Lords of The Underworld-mu?”

“Benar,” Gena mengangguk. “Dia adalah Lucien yang sama.”

As. Ta. Ga.

“Lalu apa yang terjadi pada Anya?” Aku merujuk pada karakter utama perempuan, pasangan Lucien di dalam buku.

“Anya hanyalah tokoh rekaan. Lucien tidak memiliki pasangan.” Gena menghela napas lelah. “Seharusnya aku tidak menulis tentangnya sejak awal. Setidaknya aku tidak akan terlibat dengan masalah ini, sudah terlambat sekarang. Lucien mengambil benda yang sangat berharga dariku.”

“Pena sihir yang disebutkannya tadi.”

“Benar.”

“Tetapi kau masih menerbitkan buku setelahnya. Kau tetap menulis bahkan setelah kau menerbitkan buku keduamu. Bagaimana mungkin kau melakukannya jika—” aku mencoba berlogika, “perjanjian itu, kan?”

“Aku tidak mengharapkan kurang dari ini untuk analisismu, Ai, bagaimanapun juga kau seorang penulis. Kau menangkap apa yang tidak dilihat orang lain, kau memperhatikan apa yang dianggap orang lain sebagai hal biasa.” Gena tersenyum. “Aku berjanji untuk membantunya melepaskan diri dari kutukannya, asalkan ia tetap mengijinkanku untuk menulis dengan penaku. Ia selalu mengurangi tintanya hingga aku hanya bisa menulis sebanyak sepuluh halaman setiap harinya. Itu membuatku frustasi. Aku tidak bisa menulis dengan baik tanpa pena itu.”

“Aku masih tidak mengerti.” Aku berkomentar. “Apa peranmu dalam hal ini?”

“Aku ini semacam … perantara. Aku yang melakukan kontak fisik dengan yang lain agar Lucien bisa menyentuh pikiran mereka melalui mimpi, supaya pemuda itu bisa mengecek ingatan mereka. Keturunan Dewi-Dewi Takdir memiliki semacam tanda pada ingatan mereka yang menyatakan siapa leluhur mereka. Ia perlu menemukan gadis yang tepat. Ramalan menyatakan bahwa, keturunan dari Sang Penenun Benang Takdir yang akan membebaskannya dari kutukan memiliki tanda khusus pada ingatannya, bahwa gadis itu akan mengenalinya dan mengingatnya sebagai Lucien, takdir seorang kekasih yang benangnya dijalin oleh jemarinya sendiri.”

“Sebentar … terdengar tidak masuk akal bagiku.”

Bagaimana tepatnya caraku mengingat sesuatu yang tidak pernah kuingat?

“Ingatan yang dimaksud ramalan adalah ingatan lama yang diturunkan oleh leluhurmu, ingatan itu bukan milikmu. Ramalan juga menyatakan bahwa gadis itu akan melakukan persis seperti yang dilakukan leluhurnya, menenun benang takdir. Tepatnya profesi apa yang ada di dunia ini yang memungkinkan untuk melakukan hal seperti itu kecuali seorang penulis? Seorang penulis tidak hanya mencipta seperti seniman, tetapi ia juga menyetir takdir ciptaannya, bukankah begitu, Ai?”

Aku terdiam, karena bagian mengenai penulis itu benar. Tetapi, masih ada sesuatu yang mengganjal.

“Jika memang ramalan menyatakan bahwa gadis yang akan membebaskan Lucien dari kutukan akan mengingatnya, mengapa bukan kau orangnya, Gena? Bukankah kau yang menulis mengenai Lucien? Dari percakapan kalian berdua sebelumnya kuasumsikan bahwa kau berurusan dengan Lucien setelah kau menulis tentangnya.”

“Kau lupa kata kuncinya, Ai,” Gena menegur, “aku bukan keturunan Dewi Takdir. Lagipula ingatanku tidak memancarkan cahaya atau sinyal tertentu sebagai pertanda khusus. Percayalah … Lucien sudah mengacak-acak ingatanku lebih dari sekali. Yah, bukannya ia tidak memiliki bakat dalam hal mengacak-acak pikiran waras kaum hawa sampai menjadi serpihan-serpihan kecil.”

Gena menertawai kalimatnya sendiri, meskipun aku gagal menemukan bagian mana yang lucu dari kalimatnya barusan.

“Aku masih tidak mengerti bagaimana kau mengetahui seseorang keturunan Dewi-Dewi Takdir atau bukan. Lagipula, aku tidak mengingat Lucien sama sekali.”

Gena tertawa. “Lihat kedua telapak tanganmu, Ai, pada keempat jemari dan telapak tanganmu terdapat garis bekas luka lama, di tempat yang sama ketika kau mengepalkan kedua telapak tangan. Apakah kau ingat kapan kau mendapat bekas luka yang simetris itu? Kau tidak akan ingat, karena bekas luka itu kau peroleh sejak lahir. Itu adalah tanda bahwa leluhurmu menggenggam benang-benang takdir pada kedua tangannya dan menjalinnya dengan jemari. Sementara Lucien, kau mengingatnya dengan tepat, sebagai pemuda dengan warna iris berbeda pada tulisan terakhirmu. Bahkan deskripsi fisikmu pun benar. Kau bukannya tidak mengingatnya sama sekali.”

Aku memperhatikan saat pada akhirnya Gena mencampurkan air ke dalam mortar dan mulai mengaduk dengan sebuah batang tumbuhan-entah-apa. Perempuan itu menuangkan isi mortar ke dalam gelas setelahnya, sebuah cairan yang berdesis berwarna hijau lumut.

Sangat menggoda selera, pikirku sinis.

“Ini minumlah,” Gena memberikan gelas berisi cairan hijau lumut berdesis itu padaku. “Kujamin rasanya tidak enak. Tetapi untuk mengakhiri seluruh kekacauan ini, pertama-tama, aku harus membuatmu ingat.”

***

Gelas kaca itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil bahkan sebelum aku selesai menandaskan isinya. Sementara cairan hijau lumut di dalamnya berdesis saat menyentuh lantai batu, kemudian menghilang dalam asap hitam.

Aku memegangi leherku yang terasa panas dan tercekik, seolah ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencekikku. Aku mencakar-cakar leherku sendiri dan terbatuk-batuk. Kendali hidupku seolah lolos dari jemari tanganku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa terjadi. Aku tidak mengerti.

Tidak bisa bernapas.

Kontrol motorikku lenyap, tubuhku ambruk ke lantai. Aku berusaha merangkak menjauh, berusaha membuat diriku menjadi kecil dan tak berarti. Usaha yang gagal total.

Gena tidak melakukan apapun, hanya mengamatiku seolah-olah aku adalah sebuah keajaiban … yang tidak disukainya.

Lucien!

Dalam upaya putus asaku, aku berteriak keras ke dalam kekosongan pikiranku. Berusaha menjangkau pemuda iblis itu melalui telepati—atau apapun istilahnya. Aku pasti sudah benar-benar putus asa sampai-sampai aku mempercayai iblis sepertinya untuk menolongku.

Masalahnya … pilihanku terbatas.

Aku sendirian, di antah berantah Budapest, dengan satu-satunya orang yang kukenal mencoba untuk meracuniku, sementara seorang asing yang lainnya mengancam untuk membunuhku dengan pisau.

Diantara dua buah bahaya—yang satu tidak kuketahui, sementara yang satu kuketahui dengan jelas—aku lebih suka memilih bahaya yang terang-terangan mengancamku daripada yang menyelinap dan tidak kuketahui.

Udara beriak bahkan sebelum pikiranku berakhir dan dipenuhi aroma mawar yang sangat tajam sebelum Lucien muncul tepat dihadapanku.

Ia menyeberangi ruangan dalam dua langkah besar sepatu botnya, kemudian meneliti wajahku. Seolah tahu bahwa sesuatu tak berjalan dengan semestinya, pemuda itu meraihku dan menarikku berdiri.

Kakiku mengecewakanku. Kalau Lucien tidak menahan tubuhku dengan sebelah lengannya, aku pasti sudah tersuruk kembali ke tempatku semula di lantai batu yang dingin.

“Apa yang kau lakukan padanya, Witch?” Ada geraman kemarahan yang ditahan saat Lucien membentak Gena.

Bolehkah aku berharap bahwa apapun yang saat ini kualami tidak pernah ada di dalam rencananya semula?

Kupikir Lucien muncul untuk bersorak girang dan menarikan semacam tarian pemujaan.

Menarinya nanti saja. Apa yang diberikan penyihir itu padamu?

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Lucien, otakku tidak dapat memikirkan apapun kecuali insting untuk bertahan hidup … yang dengan perlahan melemah seiring berlalunya waktu.

Kukuku terus mencakar-cakar leherku, seolah ada tali yang menjeratnya erat, yang harus kulepaskan. Melihat upaya putus asaku, Lucien melingkarkan tangannya pada pergelangan tanganku, mencegahku untuk melukai diriku sendiri.

“Mungkin aku tidak sengaja membuat ramuan untuk melenyapkan ingatannya alih-alih membuatnya ingat.”

Sayup-sayup, suara itu merasuk ke dalam kesadaranku. Kepalaku pening, pandanganku mulai berkabut, dan segala hal di sekelilingku berputar. Duniaku baru saja jungkir balik tidak terkendali.

Tadinya … kupikir semuanya tidak bisa menjadi lebih buruk lagi.

Aku salah besar.

***

Disini rasanya nyaman.

Hanya ada kekosongan tak terbatas, tidak ada—apa yang seharusnya ada namun tidak ada?

Ayu … wake up, Sweetling. Please …

Who are you?

Suara itu belum sempat menjawab apapun saat rentetan ingatan berkelebatan di balik pelupuk mataku seperti kereta ekspress. Arsitektur bangunan yang menyerupai salah satu kuil pemujaan kuno di Yunani, salah satu kamar berdinding batu dengan pencahayaan obor temaram, ruang tenun, dengan roda mesin tenun yang berputar. Seorang gadis berambut merah baru saja menusuk jemarinya sendiri dengan jarum dan sedang menggelengkan kepalanya. Gadis yang sama memarahi saudarinya, kulit pucatnya memerah karena amarah saat jemarinya menuding wajah saudarinya yang berambut emas. Gadis berambut emas itu menggenggam erat kalung emas tebal yang melingkari lehernya dengan ketat, seperti choker, hanya saja terbuat dari emas murni dan terlihat benar-benar berat untuk lehernya yang mungil. Seraut wajah yang kukenal tetapi tak kuingat namanya, pemuda dengan kedua iris mata berbeda warna, rambutnya sewarna cokelat cair, caranya tersenyum dengan ujung mata berkerut … berciuman dengan gadis lain. Jemari pemuda itu terselip di balik lipatan bagian bawah gaun panjang gadis itu, gaun yang panjangnya seharusnya sampai mata kaki, hanya saja sudah naik sampai menyingkap separuh bagian tungkai atasnya yang pucat.

Emosi yang tajam. Rasa kehilangan dan … cemburu? Bukan … dimanfaatkan.

Jari-jari tangan yang berdarah untuk sembuh, sebelum kemudian berdarah lagi dan sembuh lagi. Siklus yang berulang sebagai hukuman pelanggaran hukum semesta. Tidak seharusnya gadis berambut emas itu menenun benang takdir melawan pola yang disetujui Pemilik Alam. Tetapi toh, ia melakukannya.

Rasa sakit di jemari tangannya tidak seberapa, di hatinya … tidak tertahankan.

Gadis berambut emas itu menenun masa depan si pemuda. Darah di jemarinya membasahi benang takdir yang ditenunnya, meninggalkan pola semerah darah pada benang keemasan diantara jari-jari lentiknya.

Balas dendam.

Bukan di masa itu, tetapi di masa ini.

Kemudian, sensasi itu datang. Seolah seseorang mengaitkan kail di punggungku dan aku ditarik oleh sebuah tali pancing dengan sangat cepat meninggalkan terowongan ingatan. Ingatan masa lalu yang bukan milikku.

Res ipsa loquitur[3].

Suara itu feminim dan tidak kukenal tetapi bergema di dalam pikiranku seperti gema yang ditinggalkan bunyi lonceng.

Wake up, Sweetling.

Aku tersedak, seolah baru saja kembali sadar setelah tenggelam, bedanya, aku tersedak napasku sendiri. Jemariku meraih leherku secara refleks.

Tidak ada apapun di sana, tidak ada kalung.

Setidaknya, dulunya aku berpikir bahwa tidak ada apapun di sana. Sekarang, aku jauh lebih tahu.

Kalung itu selalu berada di sana terlindung oleh sebuah sihir kuno, hukuman dari seorang saudari leluhurku karena pelanggaran hukum semesta, simbol dari segel ingatan. Tidak terlihat, tidak pernah … tetapi selalu di sana. Tanda dari ingatan yang sejak tadi dibicarakan oleh Gena. Alih-alih membuatku lupa, percobaan yang dilakukan Gena untuk melenyapkan ingatanku justru menjadi pemicu bagiku untuk mengingat ingatan kuno yang diturunkan dari generasi demi generasi.

Terlalu terfokus pada leherku, aku hampir mengabaikan fakta bahwa Gena tidak terlihat dimanapun, atau bahwa aku bersandar dalam rengkuhan Lucien selama fase tidak sadarku.

Aku benar-benar sudah gila.

Mungkin tidak ada salahnya melakukan satu lagi hal gila, toh hasil akhirnya tidak akan berbeda.

“Res ipsa loquitur,” aku bergumam serak.

Aku dapat merasakan sebuah benda berat mewujud di leherku, kulepaskan dengan cara menariknya. Ajaibnya, kalung itu tidak mematahkan leherku. Benda itu berdisintegrasi saat aku menariknya, kemudian kembali berintegrasi menjadi lingkaran cincin besar sempurna setelah terbebas dari leherku.

Aku mengenyahkan pikiran mengganggu yang mempertanyakan bagaimana mungkin aku tidak menyadari bahwa selama ini aku membawa-bawa belenggu seberat ini di leherku dan mengumpulkan sisa-sisa keteguhan hatiku.

Kalau iblis ini menginginkan ingatanku untuk membebaskannya, maka ia akan mendapatkannya.

Aku sudah muak. Aku sudah tidak mau lagi menanggung apa yang seharusnya tidak kutanggung, sudah tidak mau lagi mengingat apa yang bukan ingatanku, sudah tidak mau lagi diseret kesana-kemari atas nama takdir yang ditenun oleh leluhurku.

Enough is enough.

Respice, adspice, prospice … fiat iustitia et pereat mundus, fortis et liber[4].”

Dentuman besar seolah sebuah bom baru saja meledak memenuhi seluruh penjuru kamar, diikuti dengan cahaya menyilaukan yang membutakan pandangan selama sesaat, persis seperti di film-film. Aku merasakan tubuhku terlontar dan membentur kaki meja tempat Gena meramu racun terakhirnya.

Aku bertahan dalam posisi tengkurap, saat secepat datangnya, cahaya itu pergi, seolah terisap oleh sebuah lubang hitam di tengah-tengah ruangan.

Keheningan yang mengikutinya kemudian seolah dapat memecahkan gendang telinga.

Setelah memutuskan bahwa keadaan tampaknya sudah mulai aman, aku membuka kedua kelopak mataku yang sejak tadi menutup dan mengintip ruangan sekitarku. Ruangan tempatku berada kacau balau seperti baru saja diterjang badai, mortar tebal Gena pecah berkeping-keping, sementara pestle-nya baru saja menggelinding di seberang ruangan.

Aku sendirian.

Sudah selesai.

***

Jakarta, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 3 Kedatangan Luar Negeri.

Rumah.

Aku mempercepat kepulanganku setelah insiden di Budapest, memutuskan bahwa aku tidak tahan untuk tinggal sedikit lebih lama di sana.

Segala hal yang pernah terjadi di Budapest, aku tinggalkan disana. Aku bahkan sudah menghapus file tulisan terakhirku, cerpen separuh jadi yang membawa bencana.

Sudahlah, aku tak mau memikirkannya lagi. Dengan sebuah ransel di punggung dan koper di tangan kanan, aku menyeret diriku sendiri melewati kehebohan di sebuah lounge eksekutif di Terminal 3, berniat untuk mencari makanan kecil sebelum meneruskan perjalanan dengan Bus Damri Bandara jurusan Bogor. Seorang artis, atau pejabat sedang membuat pernyataan untuk media termasuk media massa internasional.

Aku berjinjit-jinjit diantara kerumunan karena penasaran.

About your new book, when will you publish?” Seorang wartawan berambut pirang bertanya.

I think I will take a break for a moment,” perempuan itu menjawab lelah, pasti karena jetlag, mungkin ia baru saja melalui penerbangan yang panjang.

Didn’t you just go back from Budapest?” Seorang wartawan lokal bertanya.

Seorang penulis perempuan. Sangat mungkin bukanlah seorang penulis lokal mengingat identitas media massa yang kulihat di sekelilingku. Baru saja kembali dari Budapest.

Mengapa hal tersebut seperti membunyikan lonceng peringatan di kepalaku?

Aku berbalik dan mencoba untuk menuruti insting yang memperingatkanku untuk menjauh secepat mungkin. Dalam ketergesaanku, secara tidak sengaja aku menabrak seorang pemuda tinggi, sontak aku menggumamkan kata maaf secara bertubi-tubi.

What did you do back then? Visited an old friend maybe? Paid an old debt?

Suara itu berasal dari pemuda yang baru saja kutabrak, suara yang kukenal.

Waktu seolah berhenti mendadak. Seolah Cronus memutuskan bahwa saat itu, waktu hanya akan berputar mengelilingi tiga—‘orang’ sepertinya satuan yang kurang tepat—makhluk.

Aku menengadah, menatap tubuh tegap dengan rasio masa otot dan masa lemak yang tinggi, tulang wajah kaukasian dengan garis rahang yang tajam, rambut yang panjangnya sedikit melewati telinga—warnanya dark chocolate jenis sembilan puluh persen, nyaris hitam—bibir yang tipis dan agak meremehkan, dan sepasang iris berbeda warna.

Maybe … Whatever I did in Budapest are not your business.” Perempuan penulis itu nyaris seolah mendesiskan kata-kata barusan seperti bisa.

Tidak ada satu orangpun dalam kerumunan tersebut yang melempar pandang tidak mengerti atau terganggu, tidak ada suara protes. Semua gerakan terhenti di udara, dunia membeku, begitu saja.

Kecuali aku, pemuda itu, dan si penulis.

Wrong answer. Here’s the thing, let’s make everything clear, shall we? You tried to hurt my mate. So … You. Are. My. Business.

Aroma mawar yang tajam meretih di udara seperti api permusuhan yang menyala-nyala.

Mate … who?

Aku bergidik, ingin rasanya bumi membuka lalu menelanku hidup-hidup saja.

Careful of what you wish for, Sweetling, or should I call you … Mate?

Kau salah orang.

Tidak. Iblisku mengenalimu sejak saat pertama aku menginjakkan kaki di dalam mimpimu. Kau pikir mengapa aku bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu? Kau memanggilnya dengan pikiranmu sendiri, Sweetling.

Dia berbicara di dalam kepalaku! Oh, sh*t!

Ini tidak bagus.

Percayalah, ketika kau mulai mendengar suara orang lain berbicara di dalam kepalamu, segalanya tidak akan berakhir baik.

Padahal kupikir semuanya sudah selesai.

No, Mate. This is just the beginning.[]


[1] Dari Bahasa Hungaria, artinya hai, hello, bye. Setara dengan ciao dari Bahasa Italia.

[2] Makanan khas Hungaria

[3] Dari Bahasa Latin, artinya the thing speaks for itself. Untuk keperluan cerita ini, diartikan secara harfiah.

[4] Dari Bahasa Latin, artinya examine the past, examine the present, examine the future … let justice be done even should the world perish, strong and free.

Kupikir Aku Mengenal Gadis Ini

Coretan 6 – June 8, 2015

 

Kupikir aku mengenal gadis ini.

Ekspresi jutek, rambut keriting, muka Jawa banget, proporsi badan biasa aja, cenderung kurus. Keras kepala, perfeksionis, pemarah (dalam porsi yang benar), dengan mood pagi yang selalu jelek karena kurang tidur malam sebelumnya.

Kupikir aku mengenal gadis ini.

Sampai aku melihatnya tersenyum padaku dari sebuah foto.

Tidak, ia tidak tertawa, hanya tersenyum.

Namun, ada yang berbeda dari senyumnya.

Ada kebahagiaan yang melembutkan ekspresi wajahnya yang keras.

Sayangnya aku tidak pernah melihatnya menghadiahi senyum itu untukku secara langsung. Ekspresi wajahnya setiap kali kami bersama hanya ada dua, tak terbaca atau sedih. Yah, baiklah, agak kesal juga kadang-kadang, entah mengapa. Seolah-olah aku melakukan kesalahan, entah apa, yang tidak disukainya, tetapi ia menolak menegurku, apalagi mengatakan apa tepatnya kesalahanku itu.

Biasanya jika ia pergi dan menitipkan laptopnya padaku, aku hanya bisa memandangi dengan tolol wajahnya yang tersenyum dari halaman log-in email-nya yang menampilkan senyuman itu.

Senyuman yang diberikan kepada kamera, bukan padaku.

Kupikir aku mengenal gadis ini.

Sampai aku melihatnya tersenyum padaku dari sebuah foto.

Tidak, aku tidak mengenal siapa dia.

Ia tidak pernah menghadiahiku senyum seperti itu.

Membuatku bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan pemuda yang cukup beruntung yang pernah dihadiahinya senyuman itu.

Senyuman yang melembutkan ekspresi wajahnya yang keras, menghaluskan kerut yang muncul akibat kemarahan, atau lebih buruk lagi, kesedihan.

Kupikir aku mengenal gadis ini.

Sampai foto itu menyatakan dengan gamblang, bahwa aku tidak tahu apapun mengenainya.

A Bowful Memories of Instant Noodles

Coretan 5 – June 5, 2015

 

I know you don’t believe me writing this.

I don’t believe me either. How can I come up with such an ideas. Mystery.

Once upon a time, there lives a girl in a complicated world. Needless to say, she love instant noodle by heart. The mystery takes form the day she learned the art of cooking instant noodle.

I’ll switch to Bahasa Indonesia to make things easier.

Suatu malam, ia sedang menikmati semangkuk mie instant dan berpikir mengenai materi yang akan ditulisnya malam ini, and the thought struck her like lighting.

She remembered.

Every piece of memory from the bowl of instant noodles.

Dulu waktu kecil, ia ingat pada suatu malam Mama pernah memanggilnya untuk makan malam dan menghidangkan mie instant sebagai lauk. Mama memasaknya sedemikian rupa, hingga tidak hanya mie instant tersebut ditemani telur rebus dan sayuran, tetapi juga terlihat lebih menarik. Itu terjadi ketika mereka tinggal di rumah dinas, dengan hanya sebuah meja makan standard berbentuk persegi panjang dengan kapasitas enam kursi. Waktu itu Mama tersenyum saat menghidangkannya, sementara Papa membantunya duduk di kursi.

Kemudian ia ingat masa yang lain, ketika pada suatu siang Mama memasakkannya mie instant karena ia meminta. Mie instant itu tanpa sayur, tetapi dilengkapi oleh telur rebus kesukaannya. Ia ingat Mama bertanya padanya, apakah rasanya enak. Ia hanya mengangguk, terlalu sibuk menikmati masakan Mama.

Ketika sudah lebih besar dan mereka tidak lagi tinggal di rumah dinas, suatu hari ia pulang dari sekolah basah kuyup karena lupa membawa payung, asisten rumah tangga yang menunggui rumah dipesankannya untuk memasakkan semangkuk mie instant dan segelas teh manis panas sementara ia mandi. Itu adalah hari ketika ia mengerti arti dari peribahasa yang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana.

Ia mengalami masa sulit menjelang dewasa, dengan hormon yang bergejolak dan keinginan untuk membangkang, tetapi ia sadar bahwa sebagai anak pertama, ia memiliki tanggung jawab, setidaknya kepada adiknya selama kedua orangtua mereka bekerja. Hari itu hujan deras, rumah mereka gelap karena PLN memadamkan listrik. Adiknya kelaparan, karena tidak menyukai lauk di meja makan, maka ia memasakkan mie instant untuk lauk makan.

Lonjakan hormon untungnya hanya bertahan sampai masa SMP-nya berakhir, beranjak SMA, ia mengikuti penutupan ospek dengan pergi kemping. Pada malam hari, mereka tidak punya pilihan selain mengonsumsi mie instant yang dibeli sekardus penuh untuk satu kelas yang berisi tiga puluh enam orang. Mie instant itu dimasak beberapa porsi sekaligus di atas kompor berkemah berbahan bakar parafin. Saat itu, karena tidak membawa piring plastik, ia terpaksa berbagi secentong mie instant dengan seorang teman yang meminjaminya satu-satunya piring plastik yang dibawanya. Setidaknya ia masih bisa makan, sekalipun mie instant itu lebih terasa seperti parafin terbakar daripada rasa ayam bawang.

Ketika kuliah, ia terseret arus gaya hidup kaum urban yang gila-gilaan. Ia gila berbelanja, makan makanan yang luar biasa mahal, nongkrong di tempat yang mewah, hanya agar tidak tertinggal dari teman-teman kampus. Awal bulan masih satu minggu lagi ketika ia menjyadari bahwa uang tabungannya habis ludes hingga tinggal tersisa seratus ribu rupiah saja. Ia mengirit sisa uangnya untuk uang makan dengan cara membeli mie instant untuk makanan sehari-hari dan roti selai seharga dua ribu rupiah untuk sarapan tiap hari. Kali ini, ia belajar untuk menghargai uang, setelah tahu seperti apa rasanya kelaparan karena tidak memiliki uang.

Ia tidak pernah menyangka akan mengalami sendiri banjir lima tahunan Jakarta malam itu. Hari itu sudah hari ketiga, PLN memadamkan listrik, tidak ada warung makan yang buka, karena tinggi air yang menggenang mencapai pinggang orang dewasa, tidak ada tukang jualan yang lewat. Ia hanya punya sisa sebungkus mie instant dan sebungkus kerupuk. Ia sudah bertahan habis-habisan selama hampir tiga hari dengan hanya mengonsumsi kerupuk untuk makan, cepat atau lambat, ia akan harus memasak mie instant-nya. Ia menahan-nahan rasa laparnya, sampau ia tak lagi bisa menahannya. Pilihannya hanya makan atau pingsan. Akhirnya dengan berat hati, ia memasaknya. Mengucap syukur untuk kenikmatan kecil yang bisa dinikmatinya.

Menjalani priode kepaniteraan sebagai koas bukan hal yang mudah untuk dilakukan, terutama pada saat jadwal jaga malam. Jadwal jaga malam kepaniteraaan bedah dan anestesi di IGD berakhir tepat pada tengah malam, tetapi malam itu ia masih luar biasa lapar, karena itu ia mengajak teman jaga malamnya untuk mencari makanan di luar RS. Temannya mengajaknya ke tempat ini, sebuah restoran alakadarnya yang menjual mie instant berlevel. Ada levelnya karena pelanggan bisa memilih tingkat kepedasan yang diinginkannya. Karena tidak tahu ia hanya memesan ‘pedas’, yang ia dapatkan adalah mie instant dengan sesendok sambal yang dicampurkan di dalamnya. Ia tidak pernah memesan menu yang sama setelahnya, tetapi setidaknya makan malamnya hari itu gratis. Temannya mentraktir. Ah, apa aku menyebutnya ‘teman’? Itu sebutan halus saja untuk … yah, kalian tahu sendirilah.

Kemudian, datang masa itu, ketika ia jatuh bangun untuk seseorang ‘teman’, orang yang berbeda, dengan terminologi ‘teman’ yang kabur. Mereka berdua memang benar-benar berteman dengan ‘akrab’. Pagi itu ia sarapan di kantin dengan seorang teman perempuan, karena ingin makan makanan panas, ia memesan mie instant. Menu yang aneh memang untuk sarapan, tapi hanya itu satu-satunya makanan panas yang ada pada pukul tujuh pagi di kantin RS tempatnya menjalani kepaniteraan obsgyn. Sang ‘teman’ datang dan bergabung dengan meja mereka setelah memesan seporsi makanan. Dia duduk menempati tempat kosong tepat di sisinya, tetapi lebih tertarik untuk mengajak teman perempuannya berbicara. Mie instant-nya berubah menjadi terasa tidak enak, biasanya ia menghabiskannya sampai tetes kuah penghabisan, tetapi kali itu ia meninggalkan kuahnya begitu saja.

Gadis di dalam ceritaku di atas bisa siapa saja. Bisa kamu. Mungkin aku. Atau kalian.

Bukankah setiap dari kita memiliki pengalaman ini?

Manis atau pahit. Dikenang maupun dilupakan. Semangkuk mie instant itu menemani kita melalui segalanya.

One Should Know When to Stop

Coretan 4 – June 4, 2015 

 

Gelap.

Mati lampu lagi.

Tiada hujan, banjir apalagi, PLN memutuskan untuk melakukan pemadaman di regional ini. Entah berapa lama. Semoga saja cukup lama.

Kirana menghela napas. Ia suka kegelapan karena alasan sentimental. Gelap membuat orang-orang berhenti bekerja untuk sesaat. Gelap membuat orang-orang mengintrospeksi diri untuk sesaat. Gelap, memaksa orang-orang menghargai kilau perak di langit yang berkelip lemah.

Pendeknya, gelap memaksa orang untuk berpikir.

Dan menghentikan ritme cepat kehidupan. Untuk sementara.

Coba saja lihat apa yang terjadi padanya. Ia sedang mati-matian malam ini, habis-habisan menelan seluruh teori bulat-bulat sebelum menyerahkan dirinya untuk diuji dalam beberapa hari ke depan. Tetapi karena pemadaman tiba-tiba, ia terpaksa meninggalkan seluruh textbook itu terbuka tanpa peminat.

Ia melangkahi kamar kostnya yang kecil dalam dua langkah lebar dan membuka pintu agar tidak mati keracunan gas karbondioksida yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuhnya sendiri, kemudian duduk bersandar pada bingkai pintu.

Gelap memaksa manusia untuk berhenti dan mengapresiasi sekitarnya.

Memberi tubuh waktu untuk beristirahat sekalipun cuma sebentar.

Seperti yang dilakukan Kirana.

Kalau bukan karena pemadaman, ia pasti tidak tidur lagi hari ini, padahal kuliah pagi dimulai tepat jam tujuh besok pagi. Ia sudah kekurangan tidur kemarin, hanya bisa tidur dua jam menjelang subuh. Seharusnya, hari ini ia membayar hutang tidurnya, tetapi karena kepanikan dan pikirannya yang tak berhenti bekerja, ditambah lagi bayangan akan kegagalan yang bergelayut seolah mengejek di depan mata, memaksa tubuhnya untuk bekerja eksta keras sehari lagi.

Seharian ini ia belum tidur. Lagi.

Jika ia tidak kelewat stress, Kirana akan menyadari bahwa stamina tubuhnya sudah menurun tajam, apalagi pikirannya yang dipaksa untuk bekerja keras.

Memangnya apa yang kau takuti? Suara itu adalah suara kecil dari hatinya.

Memangnya mengapa kalau gagal? Kau hanya perlu mencoba lagi.

Tidak, aku tidak mau mengulang lagi. Itu berarti usahaku sia-sia.

Tidak ada yang namanya usaha yang sia-sia. Suara hatinya mengomentari. Selalu ada hikmah yang dapat diambil dari segalanya.

Aku tahu. Kirana menghela napas. Aku hanya tidak ingin menyerah sekarang, tidak ketika aku masih bisa berusaha, tidak ketika segalanya belum benar-benar selesai.

Kalau begitu mengapa kau berhenti? Suara hatinya bertanya mengejek.

Karena aku harus berhenti. Kirana menjawab. Aku kelelahan. Seseorang harus tahu kapan ia harus berhenti, kapan ia harus meneruskan untuk berjuang.

Tubuhku tidak sanggup. Aku harus berhenti.

Untuk sementara waktu.

Kirana menatap kegelapan di hadapannya, lanskap malam yang tak berujung.

Sang pemilik alasan mengapa siang berakhir.

Half Second Tragedy

Coretan 3 – June 3, 2015

H-1 jam ujian praktikum.

Suara yang memenuhi bagian lorong yang ini seperti rentetan suara petasan saat Tahun Baru Cina. Aku hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memperhatikan sambil menikmati suasana.

Bukan waktu yang tepat untuk melamun, aku juga tahu.

Aku hanya sudah lelah mengulang teori yang hanya harus kuingat cukup lama sampai ujian praktikum selesai, yaitu setidaknya untuk dua jam ke depan sebelum mengguncang pikiranku dan menghilangkan semua hapalan yang melekat erat di tengkorakku seperti kotoran yang menempel pada sol sepatu.

Dua orang temanku masih sibuk mengulang-ulang teori, sampai mereka tak akan melupakannya saat ujian berlangsung, sampai mereka tidak membuat kesalahan. Prinsipku agak berbeda, kalau aku sudah hapal, hal itu cukup bagiku.

Hey, memori manusia itu selektif. Otakmu memilah apa yang perlu diingat, dan melupakan sisanya.

Aku melakukan hal yang biasanya kulakukan saat mau menghadapi ujian, mengatur napas, dan melakukan persiapan mental. Aku butuh improvisasi dan menjalankan salah satu fungsi pikiranku yang paling vital, yang biasanya diremehkan oleh kebanyakan orang.

Logika.

Karena logika akan menyelamatkanmu, saat tak ada lagi yang bisa.

Yah, baiklah, aku hanya melamun untuk menghabiskan waktu dan melakukan apapun kecuali yang seharusnya kulakukan.

Belajar, misalnya.

Aku sedang mempermainkan rambutku, menyisirinya, dan sedang berusaha untuk menjinakkannya dengan pengikat rambut elastis saat ikat rambut sialan itu terlontar ke seberang lorong dan mendarat dekat sekali dengan seorang cowok.

Sudah untung lentingan ikat rambutku tidak mengenai wajahnya.

“Oh, maaf,” kataku refleks, mengulurkan tangan sambil separuh menunduk untuk meraih ikat rambutku yang mendarat dekat sekali dengan lututnya.

Adegan berikutnya agak memalukan.

Ia meraih benda itu lebih dulu dan mengamatinya.

Kemudian sensasi ruang hampa itu datang. Kau tahu apa yang terjadi. Deskripsi klise tentang seluruh dunia di sekelilingmu mendadak hening dan mengabur, ketika semua orang mendadak lenyap kecuali kau dan dia.

Sensasi ketika sepersekian detik yang singkat terasa cukup panjang bagi pikiranmu untuk menilai segalanya; potongan rambutnya, kacamata yang bertengger di hidungnya, ekspresi wajahnya, pakaiannya, bahkan hal tolol seperti cara kelopak matanya terangkat dan berkedip untuk menatapmu.

Hal-hal tolol seperti itu.

Kemudian ia menjulurkan lengannya padamu dan mengatakan sepatah kata seolah mantra yang mengembalikan semuanya kembali seperti keadaan semula.

“Ini,” katanya.

Lorong masih berisik seperti suara rentetan petasan pada saat Tahun Baru Cina, kalian berdua tidak sendirian, dan kau tahu bahwa sekalipun selama ini kalian selalu sekelas pada saat kuliah dan kau mengetahui nama cowok itu, itu adalah saat pertama kalian benar-benar berinteraksi seperti manusia primitif.

Oh, dan kemungkinan besar … ia tidak mengetahui siapa namamu.