A PROMISE

Perjuangan tidak selalu mengenai perang, tidak selalu mengenai angkat senjata untuk membela negara.

Kadang-kadang, perjuangan yang perlu dihadapi semudah—dan sesulit—menepati janji.

Aku berdiri di hadapan papan pengumuman. Secarik kertas bertinta hitam baru saja ditempel di sana, di antara poster iklan pensi kampus dan seminar kedokteran.

Aku menggigit bibir bawahku, kemudian melangkah gontai meninggalkan papan pengumuman yang masih dikerubuti mahasiswa kedokteran angkatanku. Kubiarkan langkah-langkah dan ingatan membimbing tubuhku menuju ruang sekretariat Ebers Papyrus, media ilmiah yang berisi review jurnal dan artikel-artikel mengenai masalah kedokteran terbaru.

Kumasuki ambang pintu sekretariat dan kutuju kantor Kepala Redaksi, kujabarkan seluruh maksud kedatanganku.

“Maaf. Saya harus mengundurkan diri.” Kalimat itu seolah diseret keluar dari mulutku oleh sepotong pengait besi.

Semua orang tahu, tidak mudah untuk diterima menjadi junior editor Ebers. Sementara, aku sudah melakukannya sejak tahun pertamaku sebagai mahasiswa FK. Sekarang, aku akan membuangnya begitu saja, jabatanku yang sudah kudapatkan dengan susah payah—melalui ratusan jam yang kuhabiskan memelototi layar laptopku untuk memilah, meneliti, dan menerjemahkan jurnal kedokteran terbaru, juga ratusan ribu pulsa yang sudah kuhabiskan untuk memberi makan modemku demi koneksi internet yang lancar jaya. Semuanya akan kutuang langsung ke dalam tong sampah terdekat.

Saat ini, bukan itu saja masalah yang perlu kuurus. Aku harus mencari cara untuk menyampaikan berita buruk kepada orang tuaku.

“Kau yakin dengan keputusanmu, Indy?” dr. Fiani, sang Kepala Redaksi menatapku dengan prihatin dari seberang meja. Kalau ada seseorang di Fakultas yang mengetahui dan cukup memperdulikan bencana yang menimpaku saat ini, dr. Fiani lah orangnya. Bukan hanya bertindak sebagai bosku, beliau juga merupakan pembimbing akademikku.

Aku mengangkat kepala, sejak tadi aku menunduk untuk menghindar dari tatapan analitis dr. Fiani yang menghujam wajahku. Kuberanikan diriku untuk mengulas sepotong senyum, otot-otot wajahku terasa luar biasa kaku.

“Iya, Dok. Saya minta maaf. Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, kalau kali ini saya gagal dan harus mengulang blok lagi, saya akan mengundurkan diri dari Ebers.”

Inilah beratnya masalah yang kutanggung. Aku sudah berada di tahun terakhir pendidikanku sebagai mahasiswa kedokteran. Seharusnya dalam waktu satu semester lagi—setelah aku selesai mengulang blok yang gagal di semester lalu pada semester depan—aku sudah dapat mengikuti wisuda sarjana kedokteran yang berlanjut dengan periode kepaniteraan di Rumah Sakit. Tetapi, dengan pengumuman nilai ujian blok terakhir yang menyatakan bahwa aku gagal blok—lagi—pada semester ini, rencana itu harus tertunda untuk satu tahun.

Satu tahun!

Bukan waktu yang sebentar bagi penantian terwujudnya cita-cita.

Sungguh sulit menepati janji seperti ini, terlebih karena aku sendiri yang membuatnya dan aku sendiri yang harus menepatinya. Tetapi, aku ingat ayahku pernah berkata, harga seorang manusia dinilai dari kemampuannya untuk menepati janji, terutama yang ditujukan kepada dirinya sendiri.

Satu-satunya hal yang masih menyemangatiku sampai detik ini adalah sebuah kutipan yang kuingat dari seorang penulis favoritku. Ia berkata bahwa, arti dari sebuah pengorbanan adalah, ketika seseorang melepasakan sesuatu yang baik untuk hal yang lebih baik.

Inilah pengorbananku.

Aku tersenyum saat meninggalkan ruang sekretariat Ebers. Kubiarkan langkah-langkah yang ringan menuntunku sekali lagi.

Kali ini, untuk perjuangan lain. Untuk pengorbanan lain.

<a href=”http://www.bloglovin.com/blog/13884681/?claim=ub54hdmg896″>Follow my blog with Bloglovin</a>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s