A SECOND CHANCE

“Ini untukmu.”

Ia ingat betul apa yang pemuda itu katakan padanya sebelum menyerahkan benda itu ke telapak tangannya yang terbuka, ingat betul bagaimana angin mempermainkan rambut yang pirang berantakan, bagaimana senyum getir itu terpahat di wajah dengan rahang bersudut tegas itu, ingat betul bagaimana sepasang mata itu menatapnya dengan permohonan.

Hari itu, satu menit lewat pertengahan malam pada hari ini, Rabu 25 Maret, segalanya akan dimulai kembali. Segalanya akan diputar ulang melalui sebuah keajaiban. Keajaiban yang dihadiahkan oleh pemuda itu langsung kepada telapak tanganku yang terbuka.

Aku mengerjap tak percaya memandangi benda pipih berbentuk bulat keemasan dengan tali yang menjulur bebas, Warna emasnya pudar dimakan waktu. Benda ini persis seperti saat aku mengingatnya, dengan berat yang tidak lebih berat dari sebuah telepon genggam, tulisan timbul di permukaannya mengingatkanku pada segala hal, waktu ketika segalanya bermula.

Aku meringis dan melangkah mundur, supaya bisa mendongak untuk menatap pemuda yang berdiri di hadapanku, lengan baju sebelah kanannya terkoyak, luka goresan merintangi pipinya yang dihiasi pangkal janggut berumur satu hari.

“Kau tahu,” pemuda itu berkata santai, mengusap luka pada pipinya dengan punggung tangan, “aku mendapatkannya dengan harga yang mahal, Cass. Aku menyerahkan separuh keabadianku untuk ditukar dengan,” pemuda itu menunjuk benda di tanganku dengan dagunya, “kesempatanmu untuk memperbaiki segalanya. Sebaiknya kau tidak mengacaukannya.”

Aku hanya bisa mengangguk, menggengam benda itu erat-erat dengan kedua tangan seolah-olah hidupku tergantung padanya.

Aku bisa kembali. Bisa memperbaiki segalanya.

“Jadi…” pemuda itu mendekat, “kurasa, ini saatnya bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal,” pemuda itu mengangkat tangan kanannya, dengan noda darah kering, untuk menyapu untaian rambut ikal kecokelatanku yang membebaskan diri dari ikatannya dan mengembalikannya ke balik telinga dengan lembut. “Jaga dirimu, Cass.”

“Terima kasih, Sven.” Aku mendongak, mengecup cepat sudut mulut Sven sebelum membuka kompas yang berada dalam genggaman tanganku, kacanya sudah retak, dan jarum keemasan yang berada di dalamnya tidak menunjukkan empat arah mata angin, seperti seharusnya. Hanya ada dua huruf di sana, F untuk Future dan P untuk Past. Kusentuhkan jemariku, mengirimkan gelombang energi yang membuat jarum kompas itu bergerak seimbang, satu kali putaran berlawanan arah jarum jam.

Kemudian aku sudah berada di tempat itu lagi. Tempat yang sama ketika kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut diriku dari keluargaku, dari semua yang kuketahui, semua yang kukenal, semua yang akrab bagiku.

Aku melihat truck itu dari kejauhan di belokan jalan, melihat diriku yang dulu, sehat, dengan tubuh sempurna, tanpa mengetahui adanya kekuatan lain yang bekerja di alam. Tanpa mengetahui keberadaan Sven sebagai penjaga malam, seorang malaikat pengawas, mereka yang menjagamu supaya kamu bisa terlelap dengan aman di malam hari tanpa gangguan. Dan yang kumaksud sebagai gangguan adalah mereka yang tidak menunggu panggilan di stasiun orang mati. Mereka yang tidak dipanggil untuk meneruskan ke atas, sepertiku dan Sven, atau meneruskan ke bawah, ke tanah dimana sang Bintang Fajar berkuasa dengan apinya yang tak pernah padam.

Sven, ia menjemputku setelah Neraca menentukan bahwa aku berhak untuk melanjutkan perjalanan ke atas, menjadi salah satu malaikat-Nya yang bertugas untuk mengawasi jalannya dunia.

Tapi di saat kematianku, aku seharusnya menemui seseorang, tunanganku, yang berjanji untuk makan malam denganku di restoran tepat di seberang jalan dimana keselakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membawaku pergi untuk selamanya.

Sven tahu apa yang terjadi denganku, tahu betapa aku ingin kembali ke masa laluku, untuk menyelesaikan apa yang tak pernah kuselesaikan. Karena itulah ia nekat untuk masuk ke Ruangan Pusaka Suci, mencuri benda ini untukku. Benda yang karena fungsinya yang luar biasa, tidak boleh sampai jatuh ke tangan orang yang salah.

Tapi aku bukan manusia. Tidak lagi.

Aku melihat diriku di masa lalu menyebrang dengan jemari sibuk mengetikkan pesan singkat di layar telepon genggamku, tidak melihat adanya truck yang melaju dengan kecepatan tinggi menembus tubuh malaikatku, langsung ke arah tubuh fanaku.

Dengan benda ini di tanganku, aku bisa menghentikan waktu, memutarnya seperti yang kuinginkan.

Jemariku sudah berada tepat di atas retakan kaca, aku hanya perlu menghancurkan benda ini di masa ini, untuk dapat kembali ke tubuh fanaku.

Tetapi wajah itu, rambut pirang yang tertiup angin, rahang bersudut tegas yang tersenyum, jemari yang lembut saat menyentuh pipiku, tubuh yang melakukan lebih banyak daripada sekedar mulut yang berjanji, hangat tubuh Sven dan keagungan yang memancar dari pesona sepasang sayapnya ketika pemuda itu memelukku, melindungiku dari setiap pertarungan malam kami, membuatku berpikir ulang dengan cepat.

Aku melakukan hal yang sebaliknya, kuputar jarum itu satu kali ke huruf F. Aku kembali ke tempat yang sama, dimana Sven masih menungguku. Ia memunggungiku.

“Sven.” Aku memanggilnya.

Ia berbalik dan terkejut menatapku. Ia tidak bertanya, hanya melangkah lebar untuk menggapaiku, kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau memutuskan untuk kembali.” Ada kelegaan yang tak disembunyikan dari pernyataannya, kemudian ia memagut bibirku.

“Aku tidak bisa … meninggalkanmu.” Gumamku, terisak dalam pelukannya.

Iklan

5 comments

  1. Ping-balik: #RabuMenulis spesial Time Traveler Series 25 Maret 2015 | Hero of The Drama
  2. Adis · April 10, 2015

    Ayu, deskripsimu bagus dan detail sekali. Bacanya enak dan ngalir. Akan tetapi, ketika ‘Aku’ ini berpindah dari masa depan ke masa lalu, kurang kerasa kejutannya. Bisa karena gaya deskripsimu yang memang pelan dan lembut, atau memang karena ini menulisnya terburu-buru. Ceritanya juga manis.

    Jadi… kapan nulis novel fantasi sendiri? 😀

    Suka

    • ayundyawibowo · April 13, 2015

      Hahaha, ini pertama kalinya ikut nulis cepet model gini, Teh. Apa sebutannya? Flash fiction gt? Belum terbiasa buat eksekusi ide versi supercepat bgitu. Aku aja cm suka bagian pembukanya aja, eksekusi klimaksnya nggak bgt -.-” Nulis novel fantasi sih udah, Teh, udah dipublish di Wattpad jg, pake ID: AyundyaWibowo lumayan banyak penggemarnya, yg satu udah tembus sampe 77rb reading count-nya. Mau ngajuin ke penerbit sih, cm masih blm ketemu waktunya, lagipula kebanyakan penerbit kayaknya krg welcome sm genre ini. Ada saran ga? 😀

      Suka

      • Adis · April 13, 2015

        Flash fiction sebuah untuk bentuk/formatnya sih.

        Ah, kalau aku ngelihatnya justru sekarang-sekarang ini penerbit lokal sedang berani-beraninya untuk ngangkat cerita berbau fantasi dan scifi. Dicoba aja sih masukin ke penerbit, apalagi kamu udah punya pembaca yang banyak kan di wattpad. 😀

        Suka

      • ayundyawibowo · April 14, 2015

        Insyaallah mau dicoba, Teh, ntr kl udah ga sibuk. Toh kl ga tembus juga SF banyak bgt sekarang ini 🙂 Udah ditagih sih sm pembaca, mau diterbitin kapan, hahaha…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s