Half Second Tragedy

Coretan 3 – June 3, 2015

H-1 jam ujian praktikum.

Suara yang memenuhi bagian lorong yang ini seperti rentetan suara petasan saat Tahun Baru Cina. Aku hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memperhatikan sambil menikmati suasana.

Bukan waktu yang tepat untuk melamun, aku juga tahu.

Aku hanya sudah lelah mengulang teori yang hanya harus kuingat cukup lama sampai ujian praktikum selesai, yaitu setidaknya untuk dua jam ke depan sebelum mengguncang pikiranku dan menghilangkan semua hapalan yang melekat erat di tengkorakku seperti kotoran yang menempel pada sol sepatu.

Dua orang temanku masih sibuk mengulang-ulang teori, sampai mereka tak akan melupakannya saat ujian berlangsung, sampai mereka tidak membuat kesalahan. Prinsipku agak berbeda, kalau aku sudah hapal, hal itu cukup bagiku.

Hey, memori manusia itu selektif. Otakmu memilah apa yang perlu diingat, dan melupakan sisanya.

Aku melakukan hal yang biasanya kulakukan saat mau menghadapi ujian, mengatur napas, dan melakukan persiapan mental. Aku butuh improvisasi dan menjalankan salah satu fungsi pikiranku yang paling vital, yang biasanya diremehkan oleh kebanyakan orang.

Logika.

Karena logika akan menyelamatkanmu, saat tak ada lagi yang bisa.

Yah, baiklah, aku hanya melamun untuk menghabiskan waktu dan melakukan apapun kecuali yang seharusnya kulakukan.

Belajar, misalnya.

Aku sedang mempermainkan rambutku, menyisirinya, dan sedang berusaha untuk menjinakkannya dengan pengikat rambut elastis saat ikat rambut sialan itu terlontar ke seberang lorong dan mendarat dekat sekali dengan seorang cowok.

Sudah untung lentingan ikat rambutku tidak mengenai wajahnya.

“Oh, maaf,” kataku refleks, mengulurkan tangan sambil separuh menunduk untuk meraih ikat rambutku yang mendarat dekat sekali dengan lututnya.

Adegan berikutnya agak memalukan.

Ia meraih benda itu lebih dulu dan mengamatinya.

Kemudian sensasi ruang hampa itu datang. Kau tahu apa yang terjadi. Deskripsi klise tentang seluruh dunia di sekelilingmu mendadak hening dan mengabur, ketika semua orang mendadak lenyap kecuali kau dan dia.

Sensasi ketika sepersekian detik yang singkat terasa cukup panjang bagi pikiranmu untuk menilai segalanya; potongan rambutnya, kacamata yang bertengger di hidungnya, ekspresi wajahnya, pakaiannya, bahkan hal tolol seperti cara kelopak matanya terangkat dan berkedip untuk menatapmu.

Hal-hal tolol seperti itu.

Kemudian ia menjulurkan lengannya padamu dan mengatakan sepatah kata seolah mantra yang mengembalikan semuanya kembali seperti keadaan semula.

“Ini,” katanya.

Lorong masih berisik seperti suara rentetan petasan pada saat Tahun Baru Cina, kalian berdua tidak sendirian, dan kau tahu bahwa sekalipun selama ini kalian selalu sekelas pada saat kuliah dan kau mengetahui nama cowok itu, itu adalah saat pertama kalian benar-benar berinteraksi seperti manusia primitif.

Oh, dan kemungkinan besar … ia tidak mengetahui siapa namamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s