Hujan Bulan Juni

Coretan 2 – June 2, 2015 

I will always love rain.

Bahkan saat musti kehujanan sekalipun. Dulu waktu kecil, ada spot terbuka di lantai dua rumah yang selalu jadi tempat nongkrong buat spying pedagang asongan yang lewat. Mulai dari pedagang mainan anak-anak, yang jualan balon tiup ada sedotannya sama buju-bajuan, tukang kue putu, tukang kue cucur, tukang es tong-tong, sampai tukang bakso keliling yang menurut ukuran kantong anak-anak saat itu adalah sebuah kemewahan yang tak tertandingi banget.

Nah, selain spot ini selalu digunakan buat nongkrong dan ngelamun yang produktif, tempat ini juga dipakai buat hujan-hujanan tiap kali lagi pengen basah-basahan.

Hujan punya efek menyucikan dan membersihkan.

Berdiri di bawah hujan dan membiarkan air dari langit itu tumpah dan membasahi seluruh tubuh, mungkin rasanya persis seperti terlahir kembali. Rasanya seperti, air itu mengbilas bersih seluruh kotoran, fisik maupun psikis yang menempel di tubuh.

So, yes. I will always love rain.

Sekalipun harus nyetir sambil nyipitin mata tiap kali hujan deras.

Ada yang pernah bilang, hujan hanya bisa dinikmati ketika kita nggak kehujananan. Bisa dimengerti sih, argumennya, karena saat kita sedang melakukan kesibukan dan tiba-tiba kehujanan, atau harus nyetir di bawah hujan, itu rasanya … sumpah, ga enak banget.

Jadi, satu-satunya cara menikmati hujan, sebenarnya ya … by doing nothing but enjoy.

Dengarkan suaranya, benturah halus bertubi-tubi zat cair yang menemui permukaan kasar, kemudian melenting, berkecipak, mengalir. Hujan tidak pernah membawa melodi yang sama, karena permukaan yang dikecupnya berbeda.

Lihat keluar jendela dan temukan titik air yang meluncur menuruni permukaan licinnya dalam garis-garis transparan yang pada satu titik barsatu, kemudian membetuk garis yang lebih lebar. Satu dengan yang lain tidak memiliki kecepatan yang sama, beberapa bahkan tidak memiliki jalur yang lurus.

Gunakan hidungmu untuk mencium aroma tanah basah yang melambangkan kehidupan serta aroma dari daratan yang lebih jauh.

Kemudian, rasakan. Gunakan seluruh permukaan kulitmu. Biarkan dia menghantammu dan menyucikanmu dari seluruh beban yang kau tanggung. Biarkan dia membelaimu dengan kehidupannya.

Setelahnya, kau pasti masuk angin, minimal pusing. Rasanya mandi air hangat, segelas teh manis panas, dan mie kuah instan cukup untuk memberimu sepercik kebahagiaan kemudian.

Jangan salahkan hujan karena ia tak pernah datang sendirian. Ia beramai-ramai hanya karena dengan bersama-sama dirinya berarti. Ia bukan pengecut karenanya, ia adalah pemberani yang menghantam apa yang didepannya, terpelanting, tercerai-berai, namun pada akhirnya tetap menjadi dirinya sendiri tanpa pernah sekalipun goyah.

Tidak sepertimu.

Tidak seperti manusia.

Note: Oke, mau ngaku dosa. Tulisan ini dibuat kemarin malam jadi seharusnya juga diposting kemarin malam. Tapiii … karena hujan deras, koneksi internet asma, dan yang paling penting dari semuanya, penulisnya ketiduran kayak orang mati, jadi baru bisa dipost hari ini. Tapi sumpah mati tulisan ini ditulis kemarin, kecuali bagian note-nya. Jadi semoga masih ikut itungan nulis tiap hari, walaupun lupa dipost.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s