One Should Know When to Stop

Coretan 4 – June 4, 2015 

 

Gelap.

Mati lampu lagi.

Tiada hujan, banjir apalagi, PLN memutuskan untuk melakukan pemadaman di regional ini. Entah berapa lama. Semoga saja cukup lama.

Kirana menghela napas. Ia suka kegelapan karena alasan sentimental. Gelap membuat orang-orang berhenti bekerja untuk sesaat. Gelap membuat orang-orang mengintrospeksi diri untuk sesaat. Gelap, memaksa orang-orang menghargai kilau perak di langit yang berkelip lemah.

Pendeknya, gelap memaksa orang untuk berpikir.

Dan menghentikan ritme cepat kehidupan. Untuk sementara.

Coba saja lihat apa yang terjadi padanya. Ia sedang mati-matian malam ini, habis-habisan menelan seluruh teori bulat-bulat sebelum menyerahkan dirinya untuk diuji dalam beberapa hari ke depan. Tetapi karena pemadaman tiba-tiba, ia terpaksa meninggalkan seluruh textbook itu terbuka tanpa peminat.

Ia melangkahi kamar kostnya yang kecil dalam dua langkah lebar dan membuka pintu agar tidak mati keracunan gas karbondioksida yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuhnya sendiri, kemudian duduk bersandar pada bingkai pintu.

Gelap memaksa manusia untuk berhenti dan mengapresiasi sekitarnya.

Memberi tubuh waktu untuk beristirahat sekalipun cuma sebentar.

Seperti yang dilakukan Kirana.

Kalau bukan karena pemadaman, ia pasti tidak tidur lagi hari ini, padahal kuliah pagi dimulai tepat jam tujuh besok pagi. Ia sudah kekurangan tidur kemarin, hanya bisa tidur dua jam menjelang subuh. Seharusnya, hari ini ia membayar hutang tidurnya, tetapi karena kepanikan dan pikirannya yang tak berhenti bekerja, ditambah lagi bayangan akan kegagalan yang bergelayut seolah mengejek di depan mata, memaksa tubuhnya untuk bekerja eksta keras sehari lagi.

Seharian ini ia belum tidur. Lagi.

Jika ia tidak kelewat stress, Kirana akan menyadari bahwa stamina tubuhnya sudah menurun tajam, apalagi pikirannya yang dipaksa untuk bekerja keras.

Memangnya apa yang kau takuti? Suara itu adalah suara kecil dari hatinya.

Memangnya mengapa kalau gagal? Kau hanya perlu mencoba lagi.

Tidak, aku tidak mau mengulang lagi. Itu berarti usahaku sia-sia.

Tidak ada yang namanya usaha yang sia-sia. Suara hatinya mengomentari. Selalu ada hikmah yang dapat diambil dari segalanya.

Aku tahu. Kirana menghela napas. Aku hanya tidak ingin menyerah sekarang, tidak ketika aku masih bisa berusaha, tidak ketika segalanya belum benar-benar selesai.

Kalau begitu mengapa kau berhenti? Suara hatinya bertanya mengejek.

Karena aku harus berhenti. Kirana menjawab. Aku kelelahan. Seseorang harus tahu kapan ia harus berhenti, kapan ia harus meneruskan untuk berjuang.

Tubuhku tidak sanggup. Aku harus berhenti.

Untuk sementara waktu.

Kirana menatap kegelapan di hadapannya, lanskap malam yang tak berujung.

Sang pemilik alasan mengapa siang berakhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s