A Bowful Memories of Instant Noodles

Coretan 5 – June 5, 2015

 

I know you don’t believe me writing this.

I don’t believe me either. How can I come up with such an ideas. Mystery.

Once upon a time, there lives a girl in a complicated world. Needless to say, she love instant noodle by heart. The mystery takes form the day she learned the art of cooking instant noodle.

I’ll switch to Bahasa Indonesia to make things easier.

Suatu malam, ia sedang menikmati semangkuk mie instant dan berpikir mengenai materi yang akan ditulisnya malam ini, and the thought struck her like lighting.

She remembered.

Every piece of memory from the bowl of instant noodles.

Dulu waktu kecil, ia ingat pada suatu malam Mama pernah memanggilnya untuk makan malam dan menghidangkan mie instant sebagai lauk. Mama memasaknya sedemikian rupa, hingga tidak hanya mie instant tersebut ditemani telur rebus dan sayuran, tetapi juga terlihat lebih menarik. Itu terjadi ketika mereka tinggal di rumah dinas, dengan hanya sebuah meja makan standard berbentuk persegi panjang dengan kapasitas enam kursi. Waktu itu Mama tersenyum saat menghidangkannya, sementara Papa membantunya duduk di kursi.

Kemudian ia ingat masa yang lain, ketika pada suatu siang Mama memasakkannya mie instant karena ia meminta. Mie instant itu tanpa sayur, tetapi dilengkapi oleh telur rebus kesukaannya. Ia ingat Mama bertanya padanya, apakah rasanya enak. Ia hanya mengangguk, terlalu sibuk menikmati masakan Mama.

Ketika sudah lebih besar dan mereka tidak lagi tinggal di rumah dinas, suatu hari ia pulang dari sekolah basah kuyup karena lupa membawa payung, asisten rumah tangga yang menunggui rumah dipesankannya untuk memasakkan semangkuk mie instant dan segelas teh manis panas sementara ia mandi. Itu adalah hari ketika ia mengerti arti dari peribahasa yang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana.

Ia mengalami masa sulit menjelang dewasa, dengan hormon yang bergejolak dan keinginan untuk membangkang, tetapi ia sadar bahwa sebagai anak pertama, ia memiliki tanggung jawab, setidaknya kepada adiknya selama kedua orangtua mereka bekerja. Hari itu hujan deras, rumah mereka gelap karena PLN memadamkan listrik. Adiknya kelaparan, karena tidak menyukai lauk di meja makan, maka ia memasakkan mie instant untuk lauk makan.

Lonjakan hormon untungnya hanya bertahan sampai masa SMP-nya berakhir, beranjak SMA, ia mengikuti penutupan ospek dengan pergi kemping. Pada malam hari, mereka tidak punya pilihan selain mengonsumsi mie instant yang dibeli sekardus penuh untuk satu kelas yang berisi tiga puluh enam orang. Mie instant itu dimasak beberapa porsi sekaligus di atas kompor berkemah berbahan bakar parafin. Saat itu, karena tidak membawa piring plastik, ia terpaksa berbagi secentong mie instant dengan seorang teman yang meminjaminya satu-satunya piring plastik yang dibawanya. Setidaknya ia masih bisa makan, sekalipun mie instant itu lebih terasa seperti parafin terbakar daripada rasa ayam bawang.

Ketika kuliah, ia terseret arus gaya hidup kaum urban yang gila-gilaan. Ia gila berbelanja, makan makanan yang luar biasa mahal, nongkrong di tempat yang mewah, hanya agar tidak tertinggal dari teman-teman kampus. Awal bulan masih satu minggu lagi ketika ia menjyadari bahwa uang tabungannya habis ludes hingga tinggal tersisa seratus ribu rupiah saja. Ia mengirit sisa uangnya untuk uang makan dengan cara membeli mie instant untuk makanan sehari-hari dan roti selai seharga dua ribu rupiah untuk sarapan tiap hari. Kali ini, ia belajar untuk menghargai uang, setelah tahu seperti apa rasanya kelaparan karena tidak memiliki uang.

Ia tidak pernah menyangka akan mengalami sendiri banjir lima tahunan Jakarta malam itu. Hari itu sudah hari ketiga, PLN memadamkan listrik, tidak ada warung makan yang buka, karena tinggi air yang menggenang mencapai pinggang orang dewasa, tidak ada tukang jualan yang lewat. Ia hanya punya sisa sebungkus mie instant dan sebungkus kerupuk. Ia sudah bertahan habis-habisan selama hampir tiga hari dengan hanya mengonsumsi kerupuk untuk makan, cepat atau lambat, ia akan harus memasak mie instant-nya. Ia menahan-nahan rasa laparnya, sampau ia tak lagi bisa menahannya. Pilihannya hanya makan atau pingsan. Akhirnya dengan berat hati, ia memasaknya. Mengucap syukur untuk kenikmatan kecil yang bisa dinikmatinya.

Menjalani priode kepaniteraan sebagai koas bukan hal yang mudah untuk dilakukan, terutama pada saat jadwal jaga malam. Jadwal jaga malam kepaniteraaan bedah dan anestesi di IGD berakhir tepat pada tengah malam, tetapi malam itu ia masih luar biasa lapar, karena itu ia mengajak teman jaga malamnya untuk mencari makanan di luar RS. Temannya mengajaknya ke tempat ini, sebuah restoran alakadarnya yang menjual mie instant berlevel. Ada levelnya karena pelanggan bisa memilih tingkat kepedasan yang diinginkannya. Karena tidak tahu ia hanya memesan ‘pedas’, yang ia dapatkan adalah mie instant dengan sesendok sambal yang dicampurkan di dalamnya. Ia tidak pernah memesan menu yang sama setelahnya, tetapi setidaknya makan malamnya hari itu gratis. Temannya mentraktir. Ah, apa aku menyebutnya ‘teman’? Itu sebutan halus saja untuk … yah, kalian tahu sendirilah.

Kemudian, datang masa itu, ketika ia jatuh bangun untuk seseorang ‘teman’, orang yang berbeda, dengan terminologi ‘teman’ yang kabur. Mereka berdua memang benar-benar berteman dengan ‘akrab’. Pagi itu ia sarapan di kantin dengan seorang teman perempuan, karena ingin makan makanan panas, ia memesan mie instant. Menu yang aneh memang untuk sarapan, tapi hanya itu satu-satunya makanan panas yang ada pada pukul tujuh pagi di kantin RS tempatnya menjalani kepaniteraan obsgyn. Sang ‘teman’ datang dan bergabung dengan meja mereka setelah memesan seporsi makanan. Dia duduk menempati tempat kosong tepat di sisinya, tetapi lebih tertarik untuk mengajak teman perempuannya berbicara. Mie instant-nya berubah menjadi terasa tidak enak, biasanya ia menghabiskannya sampai tetes kuah penghabisan, tetapi kali itu ia meninggalkan kuahnya begitu saja.

Gadis di dalam ceritaku di atas bisa siapa saja. Bisa kamu. Mungkin aku. Atau kalian.

Bukankah setiap dari kita memiliki pengalaman ini?

Manis atau pahit. Dikenang maupun dilupakan. Semangkuk mie instant itu menemani kita melalui segalanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s