HOT CHICK

Seorang teman pernah bilang begini, “di dunia nyata, kalau kau kehilangan sebelah sepatu pada tengah malam, artinya cuma satu: kau mabuk berat.”

Then, it’s official.

I am … drunk.

Salahkan bachelorette party Jeanine yang baru berakhir pukul tiga pagi tadi.

Seluruh perabotan di salah satu kamar Hotel Santika yang sengaja disewa oleh Jeanine untuk keluarga dan teman-teman dekat tampak memiliki kembaran yang serupa dalam lapang pandangku. Belum lagi dentuman hebat di kepalaku yang tak kunjung hilang sejak—entahlah, beberapa menit? Beberapa jam?—yang lalu setelah aku sadar.

Dengan ‘sadar’, yang kumaksud adalah membuka mata dan tahu betul dimana aku berada saat ini. Mengingat rupanya aku tidak menutup tirai jendela kamarku dengan benar—pagi? Entahlah … siang?—ini aku dibangunkan oleh sinar matahari yang menyusup masuk melalui celah tirai yang tak tertutup rapat itu, langsung diarahkan ke kedua pelupuk mataku.

Ah, sialan! Aku bahkan tidak membersihkan make-up yang kukenakan sebelum pingsan total. Aku mengerang dan berguling, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, tahu betul bahwa kedua kelopak mataku masih berwarna perak dan ber-glitter sementara bibirku berwarna deep plumthanks to NYX—sebelum—

Bruk!

Huh? Suara apa itu?

Suara benda berat menghantam permukaan kasar itu diikuti sebuah erangan.

Aku berguling dan merangkak menyeberangi ranjang berukuran queen—yang tertutup oleh gumpalan selimut tak berbentuk—untuk melongok langsung ke lantai kayu di sisi ranjang.

Seseorang sedang berbaring terlentang di lantai.

Gadis itu masih memakai one-shoulder dress berwarna putih tulang yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, sepasang Louboutin Pigalle Follies Strass Glitter Siren ber-hak lancip setinggi dua belas senti membungkus kedua kaki pucatnya. Rambut burgundy-nya yang semalam ditata oleh seorang hairstylist langganan dengan sangat bergaya sekarang mencuat nakal ke segala arah, eyeliner hitamnya luntur, dan sebelah bulu mata anti-tsunami-nya menggantung loyo di ujung luar mata.

Aku tersenyum geli, sebisa mungkin menahan tawa.

“Cleva … tolong ingatkan aku akan alasanku menikah dua hari lagi?” Pertanyaan itu diutarakan sambil diseret, Jeanine jelas-jelas mabuk.

“Hmm…” aku pura-pura berpikir, “mungkin karena kau sangat amat mencintai Drew, sampai-sampai katamu kau tidak mau hidup tanpanya?”

Yeah, bagian ‘tidak mau hidup’ itu agak berlebihan. Salahkan vodka, vodka yang membuat lidahku menjadi seperti ini.

Jeanine terkikik geli, kemudian diputus oleh cegukan, kemudian gadis itu terkikik lagi.

“Oh, gila sekali! Kita harus melakukannya lagi kapan-kapan,” Jeanine menopang tubuhnya dengan kedua tangan, supaya kepalanya bisa sejajar denganku yang sedang berbaring tengkurap secara diagonal di atas ranjang.

“Nuh-uh,” aku menggerak-gerakkan jari telunjuk tangan kananku ke kanan dan kiri dengan gaya seorang guru yang sedang memarahi anak nakal. “Tidak. Kau tidak akan pernah menjadi gadis lagi setelah mengalami pernikahan, Jean.”

Jeanine menghela napas, wajahnya tampak sedih, namun mendadak ia kembali tampak ceria. “Yeah, kita bisa melakukannya lagi saat bachelorette party-mu … atau Sammy!”

Jeanine menjerit senang.

Aku mengerang protes. Aku bahkan belum mendapatkan pangeran bermobil putihku, bagaimana mungkin mereka bisa mengadakan bachelorette party untukku?

Pikiran melanturku disela dering telepon yang berisik, membuatku menarik bantal dan menyembunyikan kepalaku dibaliknya.

Samar-samar dapat kudengar percakapan antara Jeanine dan siapapun-itu di seberang telepon. Mungkin Sammy. Atau Drew. Tidak. Pasti Sammy. Sangat mungkin Sammy. Si perfeksionis itu satu-satunya yang tidak mabuk diantara kami bertiga semalam. Sammy kalah undian, dia tidak boleh mabuk supaya bisa menyetiri kami pulang-pergi. Lagipula Jeanine akan selalu berubah menjadi gadis manja jika mengobrol dengan Drew.

Pasti bukan Eric. Eric tidak masuk hitungan. Kami bertemu dengannya secara tidak sengaja saat club-hopping kemarin, ia mengekori kami setelahnya. Semacam bodyguard, memastikan tak ada yang macam-macam pada Sammy. Adiknya. Yeah, begitulah.

Ya, ampun. Aku menyedihkan. Dan mabuk.

See? Aku bahkan tidak berpikir dengan benar.

“Jeanine. Yeah … oke. Apa! Kau bercanda!”

Tawa lepas Jeanine membuatku menyingkirkan bantal dan menatapnya yang sedang menatapku dengan pandangan seseorang yang baru memenangkan lotre.

Gadis itu meletakkan telepon kembali pada dudukannya, meleset beberapa sentimeter sehingga untuk beberapa jam kedepan—setidaknya sampai kami benar-benar sober—seseorang harus menghubungi kami melalui ponsel. Itu, jika kami dapat menemukan dimana kami meletakkan ponsel kami semalam.

“Kau mabuk berat, ya, Cleva?” Jeanine tersenyum geli.

“Yeah. Bukannya itu sudah jelas?” Aku menjawab sarkastik.

Jeanine tertawa. “Bukan itu, maksudku, mabuk berat benar-benar mabuk.”

Aku mulai bertanya-tanya siapa yang lebih mabuk diantara kami berdua saat ini, Jeanine atau aku.

“Di mana sebelah sepatumu?” Seolah tak tahan untuk menyimpan rahasia besar sendirian, Jeanine melemparkan pertanyaan pamungkasnya.

“Huh?” Aku mengangkat kaki kananku dan melihat bahwa satu-satunya Louboutin yang kupunya—aku tidak terlahir kaya seperti Jeanine atau Sammy—Hot Chick merahku masih membungkus kakiku dengan baik, kemudian kaki kiriku dan—

Oh. Sialan.

Sial! Sial! Sial!

Seorang teman pernah bilang begini, “di dunia nyata, kalau kau kehilangan sebelah sepatu pada tengah malam, artinya cuma satu: kau mabuk berat.”

Teman yang dulu mengatakan itu padaku … Jeanine.

Saat ini sedang menertawaiku habis-habisan.

“Oh, sudahlah, jangan khawatir, Cleva.” Jeanine mengibaskan tangan, seolah-olah kehilangan sebelah Louboutin bukanlah masalah besar. “Eric menemukannya, ia menyimpankannya untukmu. Yang barusan itu Eric, bertanya kalau-kalau ada diantara kita yang kehilangan sebelah sepatu, rupanya ia sudah menelepon ke ponsel kita sejak tadi.” Gadis itu tertawa.

Eric. Kakak Sammy. Yang kutaksir habis-habisan sejak SMA. Dulu kapten tim basket, sekarang pengusaha sukses, dan lajang. Masih sangat lajang. Pangeran bermobil putihku.

Tidak. Tidak, tidak!

Terdengar ketukan di pintu.

“Nah,” Jeanine bangkit dan berjalan terseok-seok. “Itu pasti dia, tadi kuminta Eric mengantarkannya kesini.”

Kupikir hari ini tidak bisa berubah jadi lebih buruk lagi.

Aku menarik selimut dan bersembunyi di baliknya, tepat saat Jeanine membukakan pintu kamar.

Aku hanya sempat melihat sekilas. Eric—dengan tubuhnya yang tinggi dan atletis, kemeja biru laut dan celana chino berwarna krem, rambut bergelombang berwarna kecokelatan tersisir rapi—membawa Louboutin Hot Chick merah laknatku di tangannya. Seperti Prince Charming-nya Cinderella, hanya saja yang ini versi Louboutin alih-alih sepatu kaca. Ia tersenyum, tampan sekali.

“Ini milik Cleva? Dimana dia?”

Samar-samar kudengar Eric bertanya.

Jangan dijawab, kumohon, jangan dijawab. Tutup saja pintunya. Aku berkomat-kamit mengucapkan permohonan tanpa kata dari balik selimut.

Sia-sia.

“Mabuk berat,” Jeanine menjawab. Entah kenapa, tanpa melihatpun aku dapat menebak bahwa gadis itu sedang tersenyum licik.

“Cleva masih tidur, Ric, coba saja kau bangunkan dia. Mungkin dengan true love kiss?”[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s