GRAMEDIA: YOU HAD ME AT HELLO

download-buku-gramedia-gratis

Susan… Susan… Susan… besok gede, mau jadi apa?

Aku kepingin pinter, biar jadi dokter

Kalau… kalau… benar… jadi dokter, kamu mau apa?

Mau suntik orang lewat, njus… njus… njus…

 

Anak-anak kelahiran tahun 90-an pasti akrab betul dengan lagu yang berjudul Susan Punya Cita-cita yang dinyanyikan oleh Kak Ria Enes ft. Susan itu. Itu adalah lagu kesukaanku waktu kecil. Aku punya kasetnya yang diputar di tape setiap pagi, lengkap dengan boneka Susan berambut pirang jerami dengan kuncir dua, dress pendek bunga-bunga berlengan panjang, serta sepatunya. Setiap pagi aku menggendong boneka itu di tanganku, memutar tape, dan berkaraoke menyanyikan bagian Kak Ria Enes dan Susan sekaligus sambil menonton ibuku bersiap-siap untuk kerja.

Dulu, aku tidak pernah tahu kalau kesukaanku terhadap lagu itu adalah awal mula dari keseluruhan ceritaku saat ini. Tapi saat ini, menengok lagi ke belakang, aku tersenyum mengingat momen-momen memori yang kukumpulkan, yang membentuk segala hal menjadi diriku saat ini.

“Ayu, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau jadi dokter.” Begitu jawabku dengan polos ke
tika ditanya apa cita-citaku dahulu menurut kedua orangtuaku.

 “Kalau mau jadi dokter harus rajin membaca, lho.” Begitu kata orang-orang yang menanggapi jawabanku saat mereka menanyakan padaku apa cita-citaku.

Aku mengangguk dan berpikir begini, ‘itu gampang. Aku rajin baca, kok,’ yang bukan merupakan sebuah kebohongan. Karena sejak kecil aku sangat menyukai buku cerita.

Aku tidak ingat buku cerita pertamaku, tetapi aku ingat punya tiga buku dongeng anak-anak tipis berilustrasi yang berjudul Cinderella, Pinokio, dan Hansel & Gretel yang kubaca berulang-ulang begitu aku bisa membaca, sampai aku hapal ceritanya. Kadang-kadang, aku bahkan meminta tetanggaku yang berusia satu tahun lebih tua dariku dan pengasuhku untuk membacakannya untukku, bukan karena aku tak bisa membaca sendiri, tapi karena aku ingin mendengar mereka membacakan cerita untukku. Sampai sekarang, aku masih ingat dimana buku itu dibeli karena Mama mengatakan padaku bahwa buku-buku itu harganya mahal dan beliau tak akan lagi mengajakku untuk membeli buku-buku seperti di Toko Buku Gramedia jika aku merusaknya.

Itulah hari dimana aku berkenalan dengan Toko Buku Gramedia secara resmi, walaupun aku belum bertemu muka secara langsung.

***

Kalau ditanya soal kapan pertemuan pertama resmiku dengan Toko Buku Gramedia, jujur, aku tidak ingat. Pastinya itu sudah terjadi lama sekali.

Yang aku ingat adalah esensi dari pertemuan itu. Pertemuan yang pertama itu pasti berkesan sekali sehingga membangun fondasi awalku untuk definisi dari kata ‘jalan-jalan’.

Aku suka jalan-jalan. Yah, anak kecil mana yang tidak, kan?

Tetapi sementara teman-temanku sangat suka jalan-jalan di mall, untuk bermain di tempat bermain yang biasanya disediakan, atau menemani Mamanya berbelanja, definisi ‘jalan-jalan’-ku berbeda.

‘Jalan-jalan,’ bagiku artinya adalah pergi ke Toko Buku Gramedia.

Kalau bagi anak-anak seumurku toko mainan adalah gambaran dari surga, aku punya gambaran yang sedikit berbeda.

Gambaran surga kecilku waktu itu adalah Toko Buku Gramedia Matraman, pusatnya Toko Buku Gramedia, dengan koleksi buku terbanyak yang pernah kulihat.

Karena kedua orangtuaku bekerja, biasanya aku baru bisa pergi jalan-jalan di hari libur mereka, Sabtu atau Minggu. Saat itulah, jika sampai sore mereka tidak menunjukkan gelagat bahwa kami akan pergi, biasanya aku akan bertanya, “hari ini kita nggak jalan-jalan?”

Lalu, biasanya Mama akan bertanya, “mau jalan-jalan kemana?”

Aku menjawab, “Ke Gramedia,” sambil membayangkan tumpukan buku di Gramedia Padjajaran (yang waktu itu paling dekat dengan rumahku) dengan sampul berwarna-warni yang memenuhi setiap sisi ruangan, yang sudah terlihat dari luar bahkan sebelum aku memasuki pintu masuk toko.

Seperti panitia penyambut tamu yang tersenyum mengucapkan selamat datang, pemandangan tersebut mencuri hatiku dan mengubah suasana hatiku dengan seketika.

Sampai detik ini, The Gramedia effect masih menimbulkan perasaan gembira yang sama seperti ketika aku masih kecil dulu. Setiap kali aku membutuhkan sedikit mood booster, aku akan mencari Toko Buku Gramedia terdekat dan menenggelamkan diri di antara tumpukan buku bersampul warna-warni koleksinya.

***

Cinta pertamaku adalah buku dan aku mencintai buku. Selamanya.

Karena sewaktu kecil dulu uang sakuku tidak cukup untuk membeli buku, aku hanya dapat memuaskan kecintaanku pada buku melalui perpustakaan sekolah dan menunggu momen ‘jalan-jalanku’. Biasanya jika aku menyukai sebuah buku cerita di perpustakaan sekolah, aku akan membelinya ketika ‘jalan-jalan’ ke Toko Buku Gramedia, dimana Ayah membebaskanku untuk membeli buku apapun yang kusukai dengan syarat tidak melebihi batas nominal rupiah yang beliau tetapkan dan disetujui beliau untuk dibeli. Ini adalah cara beliau untuk mengontrol agar buku-buku yang kubaca sesuai dengan usiaku, mengingat umurku yang masih anak-anak dan mengajariku untuk tidak boros dan bijaksana dalam memilih keinginanku.

Berhubung banyak sekali judul buku yang ingin kubeli, dan tidak semuanya memenuhi persyaratan yang diperbolehkan Ayahku, biasanya aku memilah-milah buku dengan cara mengambil semua buku yang kuinginkan lalu menyortir harganya terlebih dahulu. Setelah harga-harganya memenuhi persyaratan Ayahku, aku membaca buku sample berjudul sama yang disediakan tanpa segel untuk membaca garis besar ceritanya. Setelah memutuskan bahwa cerita tersebut cocok untuk usiaku, aku akan membawanya untuk ditunjukkan kepada Ayah supaya beliau bisa menyetujui untuk membeli buku tersebut atau tidak. Ayah hampir selalu menyetujui buku yang kupilih untuk kubeli.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah hal kecil, cara memilih buku sesuai budget yang telah disediakan. Tetapi sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, itu adalah cara Ayah mengajarkan kebijaksanaan dan skala prioritas padaku.

Pelajaran itu terjadi hampir setiap minggu pada momen ‘jalan-jalan’ selama masa kanak-kanakku sampai ketika aku memasuki Sekolah Menengah Pertama, ketika aku tidak lagi membeli buku-buku yang kusukai dengan budget yang dibatasi dan butuh persetujuan.

Pada saat Sekolah Menengah Pertama, aku melatih sistem baru untuk membeli buku yang kuinginkan dengan hasil tabungan yang kusisihkan dari uang sakuku setiap hari. Buku-buku yang kubeli pada saat Sekolah Menengah Pertama kebanyakan kubeli dengan uang tabunganku sendiri, kecuali pada saat-saat tertentu ketika orangtuaku membayariku.

Toko Buku Gramedia sudah membantuku untuk menyediakan sarana dan menjadi tempat latihan untuk beberapa pelajaran hidup dasarku.

***

Sekolah Menengah Pertama adalah pertama kalinya aku berhadapan dengan masalah-masalah remaja, seperti peer pressure dan tingkat kestabilan hormon yang mengecewakan.

Tidak pernah ada buku panduan tentang bagaimana menghadapi masa-masa remaja, misalnya seperti cara untuk menyikapi geng populer yang menjadikan geng tidak populermu sasaran untuk dipermalukan secara verbal, bagaimana cara membuat kakak kelas yang kau sukai melirikmu, bagaimana cara menghadapi seorang teman yang menusukmu dari belakang, atau betapa segala hal terlihat jauh lebih menarik tepat ketika usiamu menginjak tiga belas (Ngomong-ngomong soal buku panduan menjadi remaja, seseorang benar-benar harus mulai membuatnya).

Aku berpegangan pada tali tipis yang kusebut majalah remaja, sebagai buku panduanku dan buku harian, yang saat ini kusebut sebagai jurnal (supaya tidak terkesan kekanak-kanakan) untuk meluapkan seluruh emosiku. Karena, yah … tidak ada orang yang siap sedia setiap waktu untuk mendengarkan keluh kesahku padahal kebanyakan remaja hanya butuh didengarkan, bahkan jika keluhannya remeh saja. Tetapi buku harian setidaknya dapat mengisi fungsi tersebut dengan baik.

Lucunya, pertama kali aku berkenalan dengan buku harian adalah di perpustakaan, melalui sebuah novel remaja berjudul Dear Diary dengan peringatan untuk tidak membaca buku hariannya pada halaman pertama sebelum cerita dimulai. Tokoh utamanya adalah seorang remaja perempuan, yang mengisahkan kehidupannya dalam bentuk buku harian, ia menumpahkan segala rasa sedih, bahagia, cemas, dan kemarahannya disana, sekedar untunk menjadi waras dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah aku membeli buku harian pertamaku di Gramedia Padjajaran.

Warnanya pink, dengan wajah berbentuk beruang sebagai sampulnya dan magnet penutup di sisi kanan. Ukurannya kecil, hanya sebesar kertas notes berbentuk persegi seperti yang suka diletakkan di sisi telepon rumah. Yang spesial dari buku ini adalah kertas-kertas halamannya yang memiliki ilustrasi berbeda-beda tanpa berulang dan sampul bukunya yang terbuat dari busa keras.

Harganya empat puluh lima ribu. Bukan hanya aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, harga itu jauh melebihi batas pembelian yang disyaratkan Ayahku. Aku hanya menghela napas. Tuhan tahu aku menginginkannya, karena itu aku mencoba untuk bernegosiasi dengan alasan bahwa aku membutuhkannya, bukan sekedar menginginkannya. Tentu saja alasan itu tidak diterima, mengingat aku sudah punya banyak sekali buku diary (yang hanya berisikan sebagai kumpulan biodata teman-temanku, atau coret-coretan) jadi aku harus memohon dan merengek, seperti anak kecil.

Ironis bahwa fakta percobaan pertamaku untuk bersikap seperti orang dewasa dengan bersikap seolah tidak memiliki ketidakstabilan hormon (yang kuharapkan kelak akan mendapat bantuan dari buku harian itu), kumulai dengan merengek seperti anak manja.

Setidaknya itu berhasil dan setelah yang pertama itu, aku punya lima buku harian / jurnal lain. Sampai saat ini. Sekalipun aku tak lagi menulisinya setiap hari pada pukul sembilan malam sebelum tidur, secara diam-diam.

Jurnal, majalah, dan buku-buku (novel) menjaga pikiranku tetap teratur, menyelamatkan masa-masa tersulitku dari ketidakwarasan permanen, dan menjaga emosiku tetap tampak stabil.

Tebak siapa yang membantuku menyediakan sarana-sarana itu?

vFC2D4uJ

Tidak lain dan tidak bukan, Toko Buku Gramedia terdekat yang dapat kucapai.

***

Aku punya masalah yang sedikit berbeda pada saat SMA, mengingat hormonku sudah jauh lebih stabil dan peer pressure merupakan masalah yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kemana aku akan melanjutkan kuliah nanti.

Aku sudah jauh lebih berkembang saat itu, setelah selama enam belas tahun belakangan aku hanya hidup dan berkegiatan pada tingkat kecamatan dimana rumahku terletak, kemudian, aku bersekolah di sekolah negeri terbaik se-Kota Bogor / SMA peringkat dua terbaik se-Jawa Barat. Bagiku ini adalah sebuah lompatan istimewa, mengingat pada tahun 2005 itu, hanya ada satu anak dari sekolahku yang bersekolah disana melalui jalur seleksi nilai ujian akhir nasional (tidak ada tes ujian masuk SMA negeri pada tahun itu), yaitu aku.

Jadi … yah, saat itu aku adalah kasus luar biasa.

Tidak bertahan lama. Jujur saja, aku kewalahan. Mengingat aku bukanlah satu-satunya anak luar biasa yang bersekolah di sana. Semua orang bersaing untuk menjadi yang terbaik, semuanya bersaing untuk memperoleh peluang terbaik untuk melanjutkan kuliah di tempat terbaik.

Bukan berarti aku lupa caranya bersenang-senang.

Aku masih memilih buku, sebagai sarana pilihan untukku mengisi waktu luang—yang sangat sedikit, mengingat aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR dan badminton di Hari Minggu, juga dua sesi les Bahasa Inggris yang dijadikan satu pada hari Sabtu dan les untuk persiapan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi tiga kali seminggu—tapi, aku bahkan masih dapat bersenang-senang saat mengerjakan tugas atau di sela-sela waktu luangku yang terbatas.

Misalnya, saat mendapatkan tugas untuk membuat resensi buku, aku langsung meluncur ke Gramedia Botani Square dan berkeliaran kebingungan di section novel sampai salah seorang Mbak pramuniaga Gramedia mendekatiku dan menanyakan buku apa yang sedang kucari.

Aku mengatakan padanya bahwa aku mencari sebuah novel untuk kuresensi sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak ingin novel yang tebal, karena aku tidak mampu membaca semalaman, sementara deadline pengumpulan tugas sudah dekat. Novel itu sebaiknya juga ringan, mudah dimengerti, ceritanya dekat dengan kehidupan remaja, dan harganya tidak mahal.

Mbak pramuniaga Gramedia itu tersenyum ramah dan membawaku ke tumpukan Novel Bestseller Remaja dan menyodoriku beberapa judul novel sambil menjelaskan garis besar ceritanya padaku, sehingga aku tidak perlu membaca sinopsis di bagian belakang buku. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan menungguku memilah-milah sampai aku memutuskan novel mana yang ingin kubeli.

Itulah momen mengasyikkan yang kulakukan selama berburu buku untuk tugas Bahasa Indonesiaku.

Bukan cuma itu saja, saat menunggu dijemput orangtuaku setelah pulang les Bahasa Inggris di salah satu lembaga di Pakuan, aku punya sebuah tempat favorit untuk menunggu. Alih-alih bengong duduk sendirian di kursi tunggu di lobby lembaga les, aku memilih untuk berjalan kaki dan menunggu di Gramedia Padjajaran. Seringnya sih aku tidak membeli buku, hanya melihat-lihat buku terbitan baru atau membunuh waktu menunggu dengan membaca buku sample yang segelnya telah dibuka sampai orangtuaku datang.

Ngomong-ngomong soal buku, aku ingat bahwa suatu kali, aku membeli novel terjemahan yang terbitannya paling ditunggu sedunia, Harry Potter 7: Harry Potter and The Deathly Hallows, buku pamungkas dari salah satu buku terbaik sepanjang masa, Harry Potter. Aku ingat bahwa waktu itu dibuka pre-order pemesanan buku cetakan pertama, tetapi aku tidak mengikutinya, jadinya aku baru membeli buku itu setelah resmi beredar di toko-toko buku. Karena kesibukanku selama masa SMA, adikku lah yang lebih dulu membaca buku ini, meskipun aku yang membelinya. Pada hari ketiga setelah ia mulai membacanya, ia mengatakan padaku bahwa buku tersebut cacat. Ada beberapa halaman yang kosong sama sekali, kira-kira ada lebih dari lima halaman! Untungnya aku punya kebiasaan untuk tidak membuang struk pembelian, sehingga bergitu sempat, kami langsung membawa kembali buku tersebut ke Toko Buku Gramedia Padjajaran tempatku membelinya untuk ditukar. Mbak pramuniaga kasir yang kami tanyai melayani kami dengan efisien dan ramah, ia meminta kami menunjukkan bagian yang cacat dan bukti struk pembelian, kemudian meminta temannya mengambilkan buku yang baru untuk kami. Di depan kami, plastik segel yang masih membungkus buku itu disobek dan halaman-halaman buku diperiksa dengan cepat, terutama pada halaman yang cacat, kemudian memberikan buku tersebut kepada kami dengan pemberitahuan jika kami menemukan kecacatan lagi, kami diperbolehkan untuk menukar buku di Toko Buku Gramedia tempat kami membelinya dengan membawa serta buku yang acat tersebut, disertai bukti struk pembelian maksimal setelah satu minggu sejak tanggal pembelian. Untunglah, kali ini tidak ada kecacatan pada buku yang telah ditukar tersebut!

Sebenarnya masih banyak sekali momen seru yang terjadi selama momen SMA ini, misalnya saat aku harus membeli buku tertentu untuk disumbangkan ke Perpustakaan, Gramedia selalu menjadi toko buku pertama yang kusambangi, belum lagi di hari istimewa beberapa teman, saat aku kebingungan untuk menghadiahi mereka sesuatu, aku pasti berakhir di bagian stationary Gramedia dengan desain stationary dan pernak-perniknya yang variatif dan berwarna-warni. Satu-satunya hal yang kusayangkan dari departemen stationary ini adalah, harga barangnya yang terkadang terlalu mahal, sangat tidak cocok untuk kantung remaja sepertiku.

Pada akhir masa SMA, kuakui, aku sangat sibuk dengan segala persiapan untuk kuliah, tetapi tidak berarti aku menghentikan kunjunganku ke Gramedia. Semua buku-buku latihan soal yang kubutuhkan tersedia di toko buku ini, karena itu beberapa kali aku datang, baik untuk membeli atau sekedar melihat-lihat. Untuk sedikit hiburan aku juga selalu menyambangi bagian novel untuk sekedar melihat-lihat judul terbitan baru atau sekedar menikmati ledakan warna cover-cover novel.

1826838511_20110519101118_gramedia_2

Pada akhir masa SMA, saat aku benar-benar tertekan dengan semua hal tentang ujian akhir nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, aku menemukan pelepasan stress setiap kali aku berada diantara tumpukan buku-buku yang berwarna-warni, dengan musik instrumental lembut yang memanjakan indera pendengaranku. Terkadang, aku hanya butuh waktu sebentar untuk berjalan diantara lorong-lorong pajangan buku untuk menjernihkan pikiranku, di saat yang lain, aku butuh waktu agak lama dan harus membawa pulang sebuah buku sebagai teman.

Tidak pernah ada tempat lain yang begitu menenangkan bagiku, kecuali berada di dalam toko buku.

***

Pada tahun 2008, aku resmi diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Satu langkah lebih dekat untuk mencapai cita-cita masa kecilku.

Kalau sebelumnya kupikir tidak ada yang lebih berat dibandingkan masa SMA, bahwa kuliah akan lebih mudah karena apa yang dipelajari sudah mulai menjurus kepada kekehususan tertentu, ternyata aku salah besar.

Hari-hari kuliah smester awalku kulalui dengan jatuh-bangun, pergi pagi pulang petang sudah bukanlah hal yang mengejutkan, padahal aku tinggal di kost dekat kampus dan tinggal berjalan kaki lima belas menit setiap kali pergi ke kampus. Tetapi aku selalu terlalu lelah saat pulang. Sementara mahasiswa-mahasiswa FK yang terbiasa dengan tampang kucel, aku melihat mahasiswa jurusan lain yang berdandan dan menggangap kampus sebagai semacam catwalk, area modeling. Kau tidak bisa melakukan hal semacam itu saat menjadi mahasiswa FK.

Kalau sebelumnya, aku bisa secara rutin mengunjungi Toko Buku Gramedia setidaknya dua kali dalam sebulan, pada masa-masa kuliah ini, frekuensi kunjunganku jauh berkurang. Walaupun setiap kali ada kesempatan, aku pasti mengunjungi Gramedia, walaupun hanya untuk sekedar melihat-lihat.

Kalau biasanya aku adalah tipe orang yang tidak bisa keluar dari Toko Buku tanpa membawa pulang kantung plastik berisi buku, kala itu adalah masa-masa dimana aku tidak lagi selalu membeli buku. Walaupun aku masih dikenal sebagai: ‘kalau Ayu menghilang di mall, pasti ada di Toko Buku’ baik oleh keluarga maupun teman-temanku. Yah, masalahnya textbook kedokteran itu harganya mahal-mahal sekali, budget untuk membeli novelku jauh berkurang.

Tidak berarti aku tidak mengunjungi Gramedia sama sekali, lho, aku masih mengunjungi Gramedia untuk sekedar membeli majalah bulanan, karena aku sudah tergila-gila pada majalah sejak kecil! Aku bahkan pernah membeli dua judul majalah yang berbeda pada waktu yang sama karena bonus-nya. Siapa sih yang tidak suka gratisan?

Tentang gratisan ini, pada suatu waktu tertentu, Gramedia mengeluarkan kartu member yang dinamai Kompas Gramedia Value Card, dimana salah satu keuntungan yang didapat adalah diskon 10% sepanjang tahun khusus untuk pembelian buku-buku berlogo penerbit Gramedia dan gratis voucher Gramedia setelah mengumpulkan poin pembelanjaan berjumlah tertentu. Asyik banget! Tentu aja aku langsung mendaftar sebagai member. Waktu itu aku mendaftarkan diri di Toko Buku Gramedia Mall Taman Anggrek. Sejak saat itu, sampai detik ini aku masih terdaftar sebagai member dan kabar baiknya, promo yang kusebutkan di atas masih berlaku! Ayo, buruan daftar!

Kebetulan Gramedia juga bekerja sama dengan sebuah provider operator telepon selular yang kugunakan, dimana seluruh pelanggan provider tersebut dapat menukarkan poin penggunaan sejumlah tertentu dengan free voucher Gramedia senilai lima puluh ribu rupiah! Lumayan banget, kan? Aku bahkan sudah punya lima buku yang kubeli dengan memanfaatkan keuntungan ini.

Promosi Gramedia untuk meningkatkan minat baca di Indonesia benar-benar patut banget diacungi jempol, selain rajin mengikuti pameran buku tahunan, seperti Indonesia Book Fair, Toko Buku Gramedia juga sering mengadakan Pesta Buku atau Gramedia Fair di toko-toko bukunya. Tak terhitung berapa kali sudah aku mampir ke bazaar buku Gramedia. Soalnya kapan lagi bisa mendapatkan buku-buku bagus dengan harga diskon, bahkan murah meriah?

Terbukti bahwa sekalipun sudah menjadi mahasiswa FK, aku masih gadis kecil pecinta buku yang sama, yang suka menghilang di antara tumpukan buku. Hari-hariku menjadi orang dewasa tidak akan jauh lebih mudah dibandingkan ketika dulu aku masih kecil, tetapi setidaknya aku selalu tahu kemana aku harus pergi setiap kali aku membutuhkan sedikit kebahagiaan.

Masa-masa menjalani pendidikan di Rumah Sakit sebagai koas, adalah masa dimana aku suka menyelundupkan novel di dalam tasku. Pada waktu ini aku sudah kehilangan kemewahan untuk membaca buku pada akhir minggu secara teratur dikarenakan tugas jaga yang tidak memiliki pola khusus. Bagiku saat itu, itu adalah sekilas kehidupan yang akan kujalani sepanjang hidupku kelak, ketika semua kesenangan sederhana seperti tidur, mandi, makan dan membaca novel dengan tenang sepanjang hari pada akhir minggu adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Pola hidupku berubah menjadi, tidur ketika bisa, mandi kalau senggang, makan ketika sempat (kapanpun itu, sediakan cemilan di dalam kantung snelli, terutama cokelat), dan membaca novel untuk menghabiskan waktu menunggu (jika tidak ada tugas dan tidak ada visite dokter).

Aku masih gadis kecil yang sama, yang sangat suka membaca, karena ingin menjadi dokter. Kecuali fakta bahwa sejak SMA, aku resmi menjadi penderita insomnia.

Tetapi ada sebuah fakta yang tidak berubah, aku masih memandang Toko Buku Gramedia dengan cara yang sama seperti ketika aku masih kecil dulu.

Surga kecilku.

Selalu menyapaku dengan ramah pada detik pertama aku melihatnya, mencuri hatiku dalam kedipan mata.

Bulan depan, tepat pada tanggal 12 November 2015, aku akan resmi dilantik dan mengambil sumpah sebagai seorang dokter, pada akhirnya memenuhi cita-citaku sewaktu kecil.

Gramedia telah menjadi bagian dari perjalananku selama ini.

Seperti inilah, Gramedia di mataku.[]

Salam Sayang Selalu,

dr. Ayu Windyaningrum


Note:

Facebook: https://www.facebook.com/ayu.windyaningrum

Twitter: https://twitter.com/Ayundyawibowo

Instagram: @ayuwindyaningrum

LINE ID: ayu_windya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s